Oleh H.Harmoko DEBAT itu bukan perkelahian, bukan perselisihan, bukan pula permusuhan. Kalaupun dikatakan "pertarungan" dalam kontak adu argumentasi dengan menyodorkan fakta dan data, itu pun untuk mencari kebenaran objektif. Bukan pembenaran diri sendiri. Jika sudah saling menang- menangan, nanti yang terbawa- bawa kusir delman sehingga bisa terjebak ke dalam "debat kusir". Banyak versi yang menyebutkan asal -usul istilah " debat kusir". Satu di antaranya sering dikisahkam ketika KH Agus Salim naik delman terdengar suara kentut dan tercium bau tak sedap dari kuda penarik dokar. KH Agus Salim pun berkata kasihan ya kudanya masuk angin. "Bukan Pak, kudanya keluar angin," balas sang kusir. "Iya, itu artinya masuk angin," kembali KH Agus Salim menjawab. Dan lagi-lagi kusir itu membalas, "Bukan Pak, ini keluar angin." Begitu terus perdebatan mereka hingga KH Agus Salim sampai ke tempat tujuan. Padahal KH Agus Salim, tokoh yang tak terkalahkan, sudah terbiasa memenangkan debat di forum internasional. Pahlawan nasional kita ini tokoh yang disegani dunia. Di dalam suatu rapat penting yang menentukan nasib Republik Indonesia, ketika perdebatan tidak menemukan titik temu, KH Agus Salim mengingatkan semua peserta untuk menghindari “debat kusir.” Seluruh peserta bertanya-tanya apakah maksud dari "debat kusir". Kemudian diceritakanlah kisah KH Agus Salim berdebat dengan kusir delman tersebut. Sejak saat itulah “debat kusir” menjadi istilah yang lazim diucapkan masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), debat diartikan sebagai pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Berarti di dalamnya ada unsur bertukar pikiran, wajib memberi argumem atas pendapatnya dan berhak pula mempertahankan pendapat atas sesuatu hal (topik). Haruskah ada titik temu? Jika forum debat dimaksudkan untuk merumuskan masalah (mencari solusi), perlu ada titik temu. Tanpa titik temu berarti tujuan debat tak tercapai. Lain halnya debat visi misi, dalam pilkada atau pilpres. Sebut saja dengan tema keadilan sosial. Goalnya (sasaran akhir) boleh jadi sama yakni terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tetapi cara mencapai target belum tentu sama. Cara mencapai target itulah yang diperdebatkan. Masing -masing boleh beda pendapat dan tak harus dipaksakan ada titik temu karena memang beda konsep. Tak ubahnya beda pilihan bisa diperdebatkan, tapi tak bisa dipaksakan. Biarkanlah publik yang menilai pendapat siapa dan konsep mana yang paling logis, cocok, baik dan benar untuk, misalnya, diterapkan di negeri kita saat ini. Itu pun masih akan menimbulkan perdebatan panjang. Dari debat yang satu ke debat yang lain, dari yang lain ke yang lainnya lagi. Beda pendapat sah - sah saja sepanjang masih berdasar pada etika dan norma. Etis adalah memperhatikan nilai budaya, adat dan moral. Sedangkan norma adalah aturan main yang sudah ditetapkan pemerintah. Itulah sebabnya dalam berdebat sedapat mungkin jauhkanlah upaya menjatuhkan lawan dengan mengumbar aib pribadi. Mampu menahan emosi, santun dalam bertutur kata, serta hilangkanlah ego paling benar dan harus menang sendiri. Dalam perdebatan sebenarnya tidak ada istilah menang dan kalah. Yang ada hanya merasa menang dan merasa kalah. Begitu juga dalam debat Capres dan Cawapres, hendaknya tidak mencari siapa menang dan siapa kalah. Kemenangan sesungguhnya akan teruji pada 17 April saat pencoblosan. Karena itu masing -masing kandidat hendaknya bersikap lebih kepada meyakinkan publik bahwa dirinya menguasai permasalahan yang dihadapi bangsa. Memiliki solusi untuk mengatasi masalah dimaksud, serta berkemampuan membawa bangsa menjadi mandiri, maju dan sejahtera. Itu lebih penting ketimbang berharap tepukan tangan yang sangat meriah di ruang debat yang belum tentu di luar sana sama meriahnya. Sejatinya, orang berdebat dan saling kritik hanya akan produktif dan menuju kebaikan bila antara mereka ada saling percaya dan hormat menghormati. Itulah sebabnya makna debat yang sesungguhnya adalah mencari sahabat, bukan cari menang dengan cara saling menghujat. Mengalah bukan berarti kalah. Ada kalanya mengalah karena tidak mau berdebat hingga menimbulkan perselisihan. Mengalah akan mendapatkan ketenangan dalam hidup karena jauh dari masalah.(*).
DEBAT BERSAHABAT
Kamis 17 Jan 2019, 07:35 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
Nasional
Menko AHY Ajak Dewan Pakar IKA UNAIR Perkuat Sinergi Akademisi dan Pemerintah untuk Hadirkan Solusi Nyata bagi Rakyat