Strategi Ganjil Genap Masih Dibutuhkan

Rabu 19 Des 2018, 06:49 WIB

KEMACETAN lalu lintas di Jakarta menjadi rutinitas yang dihadapi warga Ibukota. Pertumbuhan kendaraan yang luar biasa, tidak sebanding dengan pertumbuhan jalan, serta keterlambatan membangun transportasi massal semakin membuat kusut Kota Jakarta. Tercatat, penambahan kendaraan baru di Jakarta setiap hari ada sekitar 1.500 unit. Siapa pun yang memimpin di Jakarta, harus punya strategi dalam mengurai benang kusut kemacetan di Ibukota. Pemprov DKI memang telah memiliki blue print transportasi makro yang dibuat pada 2007 yang meliputi tiga strategi yaitu: peningkatan kualitas transportasi publik, pembatasan lalu lintas dan peningkatan infrastruktur. Peningkatan kualitas transportasi publik, tengah digenjot Pemprov DKI. Mulai dari penambahan dan perluasan jangkauan bus Transjakarta, serta pengadaan Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT) yang akan dioperasikan 2019. Begitu pula pembatasan lalu lintas, dan peningkatan infrastruktur terus dilakukan. Tetapi strategi jangka pendek juga mendesak dilakukan. Aturan ganjil genap misalnya, diberlakukankan pemprov sambil menunggu Electronic Road Pricing (ERP) diterapkan. Sistem ganjil genap yang akan berakhir masa berlakunya pada 31 Desember 2018, telah dirasakan dampak positifnya. Belum adanya kepastian kapan ERP diberlakukan, harus ada solusi sementara. Ada baiknya aturan ganjil genap yang selama ini telah dipatuhi pengendara, diperpanjang supaya kondisi jalan raya di Jakarta tidak semakin parah. Pembatasan kendaraan melalui aturan ganjil genap paling tidak bisa meminimalisir ‘blunder’ kemacetan lalu lintas. Problem klasik kemacetan lalu lintas, sudah menggejala sejak tahun 1965, atau 53 tahun silam. Problem yang dihadapi pemerintah Jakarta ketika itu juga sama, infrastruktur jalan minim, volume kendaraan terus bertambah baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Di era Orde Baru, pembangunan infrastruktur jalan layang maupun jalan tol digenjot. Tetapi Jakarta tetap macet, bahkan kian parah. Jakarta bebas macet, adalah dambaan warga. Kita berharap, transportasi publik MRT dan LRT yang tak lama lagi dioperasikan, dan bus Transjakarta dapat mengatasi penyakit kronis kemacetan di Jakarta. **


News Update