PEMBANGUNAN light rail transit (LRT) Jakarta – Bogor- Depok- Bekasi ( Jabodebek) perlu lebih dikebut untuk mencapai target waktu penyelesaian. Awalnya ditargetkan dapat dioperasikan mulai Mei tahun depan, tapi dari progres pembangunan yang sudah berjalan nampaknya akan mengalami kemunduran. Data menyebutkan hingga November 2018, pembangunan tahap pertama sepanjang 43 kilometer baru dirampungkan 49,1 persen dengan rincian Cawang-Cibubur terselesaikan 71,3 persen dari total 14,9 Km, Cawang-Kuningan-Dukuh atas baru 37,2 persen (11,1Kkm), dan Cawang-Bekasi Timur baru 41,8 persen (18,5 Km). Ada sejumlah kendala untuk menyelesaikan proyek LRT sepanjang 82,9 kilometer yang menelan dana sekitar Rp31 triliun itu. Satu di antarnya, bisa diduga perlunya revisi anggaran akibat deprisiasi kurs rupiah terhadap USD. Belum lagi kendala teknis lain seperti pembebasan lahan untuk keperluan dipo LRT yang berada di wilayah Bekasi, Depok dan Bogor. Kita berharap kendala tersebut segera dapat diatasi sehingga proyek kebanggaan warga Jabodetabek ini segera terwujud. Kami meyakni terobosan sedang diupayakan, sehingga kalaupun mundur dari target, tidak terlalu jauh mengingat moda transportasi ini menjadi salah satu simpul mengatasi kemacetan lalu lintas yang melanda wilayah Jabodetabek. Kemunduran proyek tentu akan berdampak kepada tertundanya upaya mengurai kemacetan yang kian hari tambah menjadi. Tak dapat dipungkiri pertumbuhan kendaraan bermotor tiap hari terus bertambah, makin tak sejalan dengan angka pertambahan jalan. Kita sepakat moda transportasi massal seperti MRT , LRT dan Commuter Line menjadi satu solusi. Tidak saja untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, tetapi menyediakan angkutan umum yang aman dan nyaman serta tepat waktu. Juga yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan pelayanan kepada publik dengan angkutan yang ramah lingkungan. Lebih jauh lagi hemat energi. Tidak saja mencegah pemborosan bahan bakar minyak, juga mencegah terbuangnya waktu akibat tersita cukup lama di jalan raya. Sementara kita tahu, terbuangnya waktu dapat menurunkan nilai dan tingkat produktivitas masyarakat. Hal lain yang perlu menjadi bahan kajian adalah penilain mahalnya biaya pembangunan LRT yang disebut per kilometer persegi mencapai Rp 1 trliun. Angka ini mengacu kepada biaya proyek LRT sepanjang 5,8 Kilometer dari Velodrome (Rawamangun ) menuju Kelapa Gading yang menelan dana sekitar Rp 6 Triliun. Meski mahal itu relatif karena lokasi proyek bisa membedakan biaya yang dikeluarkan, tetapi setidaknya bisa menjadi kajian bersama pada fase berikutnya. ( *).
Berharap Proyek LRT Segera Tuntas
Selasa 18 Des 2018, 04:33 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.