PENYERBUAN Markas Polsek Ciracas, Jakarta Timur, disertai penganiayaan kapolsek dan beberapa anggotanya, menjadi insiden terburuk gangguan kamtibmas di Ibukota menjelang tutup Tahun 2018. Aksi ini bukan hanya merusak fasilitas negara yang dibangun untuk kepentingan masyarakat, tapi juga bisa merendahkan kewibawaan Polri. Amuk massa yang terjadi Rabu (12/12/2018) dinihari juga membuat warga yang tak tahu menahu persoalan, juga menjadi korban. Salah satunya, pengendara mobil luka dikeroyok, dan kendaraannya dirusak. Rumah warga juga dirusak. Intinya, semua dirugikan. Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis saat memberi penjelasan didampingi Pangdam Jaya Mayjen Joni Supriyanto, tidak secara eksplisit menjelaskan siapa 200 orang yang melakukan penyerangan. Secara implisit hanya disebutkan pelakunya massa, tanpa menjelaskan kelompok dari mana. Latar belakang penyerangan, terkait penganiayaan terhadap dua anggota TNI yang dilakukan sejumlah juru parkir (jukir). Ada dua peristiwa yang bisa disoroti dalam kasus ini, yaitu penganiayaan anggota TNI, dan penyerangan Mapolsek Ciracas. Pada kasus penganiayaan, kepolisian harus cepat dan tegas menindak pelaku. Ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat bahwa hukum tetap harus ditegakkan terhadap pelaku tindak pidana apapun. Pembelajaran juga bagi warga, bahwa aparat TNI dan juga aparat Polri wajib dihormati. Karena TNI adalah perisai yang melindungi segenap bangsa serta seluruh tumpah darah Indonesia, dan Polri adalah penegak hukum yang mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat. Sedangkan dalam konteks penyerangan markas polisi, apapun latar belakangnya jelas sangat disayangkan dan tak dibenarkan. Publik mafhum mengapa aparat kepolisian hanya menjelaskan samar-samar tentang massa yang menyerbu, dan sangat berhati-hati dalam menangani kasus ini. Bisa jadi tujuannya untuk mendinginkan situasi supaya tidak muncul gesekan-gesekan lagi. Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit bagi semua elemen bangsa ini. Bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, semua pihak harus saling menghormati, belajar mengendalikan emosional dan bertindak rasional. Peristiwa ini juga menjadi PR bagi semua pihak untuk mengurai benang kusut dan mencairkan kebekuan yang mungkin selama ini terjadi. Kita berharap ini kejadian terakhir, dan semua pihak bisa mengambil hikmahnya. Kunci yang paling penting, adalah jalinan komunikasi yang baik serta terus membangun sinergitas. **
Mengambil Hikmah dari Perusakan Markas Kepolisian
Jumat 14 Des 2018, 07:10 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.