Ancol, Kenapa Meredup

Kamis 13 Des 2018, 07:05 WIB

SIAPA yang tak kenal obyek wisata Ancol? Obyek wisata unggulan di Jakarta ini sejak  dahulu sudah dikenal bukan saja oleh warga Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga seantero nusantara. Ancol memang sudah populer dan melegenda. Obyek wisata yang hadir pada tahun 1966 ini dari masa ke masa banyak dikunjungi warga, baik domestik maupun turis mancanegara. Tak heran bila Ancol Taman Impian ini adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)  Pemprov DKI Jakarta  yang termasuk menjadi andalan  pendulang pendapatan ke kas daerah. Tiada  hari, terutama pada hari libur dan hari besar lainnya seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru,  obyek wisata yang diplot Pemprov DKI Jakarta sebagai kawasan wisata terpadu selalu banjir pengunjung. Linier dengan itu, pemasukan pun mengalir deras ke kas daerah. Aneka obyek wisata disajikan oleh pengelola Ancol. Di  area pariwisata terintegarsi seluas lebih kurang 552 hektare di bibir pantai itu, terdapat beragam tempat rekreasi dan resor. Ada pantai dan taman, Dunia Fantasi (Dufan), Atlantis Water Adventure  (Atlantis), Ocean Dream Samudra (Samudra), Sea World, Putri Duyung Cottages, Marina, Pasar Seni, Kereta Gantung (Gondola) dan lainnya. Bukan itu saja, di Ancol juga ada puluhan kios penjual souvenir, makanan dan minuman, resto, kafe maupun mal. Ancol juga asyik bila untuk berwisata kuliner. Seiring perkembangan zaman dan bermunculannya obyek-obyek wisata berkelas  di daerah penyangga seperti Bogor, Bekasi, Tangerang dan lainnya, pengelola Ancol dituntut berbenah dan terus berinovasi, karena kabarnya pengunjungnya mulai ngedrop. Apalagi sejumlah  anggota DPRD DKI Jakarta mengkritik bahwa sajian yang disuguhkan Ancol monoton. Akibatnya obyek wisata yang berlokasi di Jakarta Utara ini dari hari ke hari dinilai meredup. Dasar mulai meredupnya Ancol, Dewan menyodorkan target pendapatan yang tidak tercapai. Pada 2018, dari target Rp68,4 miliar hanya terealisasi Rp59,9 miliar. Sedangkan tahun 2019, target setoran ke kas daerah hanya dipatok Rp58 miliar. Paparan  Dewan mungkin saja tidak sepenuhnya benar, tetapi bila melongok obyek wisata Ancol seperti Pasar Seni yang sudah meng-Indonesia bahkan mendunia, kini kondisinya merana. Bangunannya  sudah pada lapuk dan kusam, namun dibiarkan.  sehingga auranya tak muncul. Begitupula dengan Pantai Festival, Pantai Bende, dan mal yang sepertinya belakangan terlihat mati suri. Kini saatnya berbenah. Jadikanlah kritik sebagai obat dan pemacu bagi pengelola agar tetap unggul dalam persaingan bisnis obyek wisata yang kini sudah mulai mengepung Ancol. Carilah strategi jitu agar Ancol selalu dekat dengan masyarakat di mana pun.  Misalnya dengan menyesuaikan tarif tiket masuk yang saat ini dirasa sangat mahal bagi warga kebanyakan. Diharapkan dengan tiket masuk terjangkau kantong, pengunjungnya membludak kembali dan nama besar Ancol yang sudah melegenda tidak meluntur. @*


News Update