MUSIM penghujan sudah mulai datang. Bagi Jakarta yang menjadi wilayah langganan banjir perlu bersiap diri mengantisipasi, setidaknya menutup peluang banjir lebih besar dan meluas melanda. Meski kita berharap banjir tidak terjadi lagi, tetapi antisipasi perlu ditingkatkan mengingat Jakarta merupakan daerah rawan banjir karena lokasinya berada di bawah permukaan air laut. Bahkan, intruisi air laut sudah merembes ke wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Tak heran, jika hujan sebentar saja kawasan Jalan Thamrin dan Sudirman kadang menjadi tergenang. Belum lagi curah air dari Bogor yang sering disebut banjir kiriman seperti yang sering melanda Jakarta. Banjir akan terus menjadi satu problema yang tiada hentinya di Jakarta. Banjir bagaikan momok bagi warga Jakarta. Kita memahami problema Jakarta sangat kompleks, bukan saja penyebabnya, juga dampaknya bagi warga. Tak berlebihan sekiranya masalah banjir juga merupakan satu pekerjaan rumah Gubernur Anies Baswedan, selain sejumlah masalah lainnya, termasuk kemacetan yang kesemuanya bertujuan menyejahterakan Jakarta. Sesuai slogan “Maju kotanya, bahagia warganya”. Banjir menjadi persoalan di depan mata, dan akan berlangsung beberapa bulan ke depan, memasuki musim penghujan yang diprediksi hingga bulan Januari 2019. Itulah sebabnya, terobosan baru perlu dilakukan. Ini sekaligus sebagai jalan pintas untuk meminimalisir kemungkinan munculnya kontroversi soal banjir. Lebih – lebih jika wilayah banjir akan tambah meluas, maka masalah banjir pun bisa dipolitisir. Apa lagi jelang Pileg dan Pilpres. Di sinilah perlunya sikap cepat tanggap mulai dari upaya pencegahan, mengatasi banjir hingga penanganan pascabanjir. Sering terjadi sikap cepat tanggap dilakukan aparat ketika banjir berlangsung, saat korban banjir dalam pengungsian. Bantuan berupa makanan, pakaian, obat – obatan dan air bersih berlimpah saat korban banjir masih dalam pengungsian. Tetapi bantuan lanjutan, setelah mereka pulang ke rumah, acap terabaikan. Padahal bantuan pascabanjir, pascamusibah sangat diperlukan. Ini bisa terjadi karena mereka yang pulang dari pengungsian sering mengalami kesulitan memulai kehidupan. Selain keterbatasan bahan makanan, peralatan rumah tangga sebagian rusak, tak bisa dipakai. Tak jarang di antara mereka menjadi trauma karena tidak siap mengadaptasi kehidupan baru pascabanjir. Di sisi lain, ada sebagian masyarakat yang tidak memiliki kemampuan secara material untuk membangun kembali kehidupannya setelah dilanda banjir.
Antisipasi Banjir
Rabu 24 Okt 2018, 04:48 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
JAKARTA RAYA
Polisi Tangkap Penganiaya Ibu-ibu di Beji Depok, Terkuak Pelaku Ternyata Bukan Driver Taksi Online
HIBURAN
Sinden OVJ 2017 Siapa Saja? Simak Daftar Namanya di Tengah Pernyataan Erin soal Perselingkuhan Andre Taulany