POSKOTA.CO.ID - “Jadi negara kuat, hebat serta bermartabat adalah kebutuhan era sekarang.Apa pun konflik global akan terjadi, selama negara kita kuat dan bermartabat, pasti akan diperhitungkan eksistensinya, diminta saran dan solusinya dalam mengatasi krisis global," kata Harmoko.
Kunjungan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres ke Indonesia setidaknya menjadi cermin atas pengakuan dunia begitu pentingnya peran negara kita di forum global.
Tak kalah pentingnya kunjungan tersebut menyiratkan tiga momentum penting. Pertama; kunjungan Sekjen PBB dilakukan menyongsong dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo, kedua; kunjungan bertepatan dengan akan diperingati Hari PBB setiap 24 Oktober, ketiga; momentum untuk berpamitan, mengingat masa tugas Antonio Guterres sebagai Sekjen PBB, akan berakhir Desember 2026.
Ketiga momentum ini tentu memiliki makna tersendiri, Terlebih Sekjen PBB menyempatkan diri bermalam di kediaman pribadi Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, menyiratkan adanya kedekatan. Tak hanya penghormatan dan apresiasi dukungan global peran Indonesia di kancah dunia, termasuk upaya nyata perdamaian di Palestina, juga adanya kedekatan secara personal.
Baca Juga: Kopi Pagi: Memasuki Tahun Ketiga Pemerintahan Prabowo
Diplomasi personal lebih ampuh, sering diibaratkan memiliki kekuatan maha dahsyat karena di dalamnya terbangun kepercayaan, kesamaan karakter, didasari kejujuran dan keterbukaan.
Diplomasi personal dapat mengalahkan diplomasi perang, kekuatan bersenjata paling modern sekalipun. Dapat mengatasi kebuntuan, jika diplomasi resmi gagal mengambil keputusan. Dapat pula menyelesaikan krisis secara cepat dan tepat demi kebaikan, kemajuan dan perdamaian dunia.
Kita masih ingat, filosofi politik luar negeri Presiden Prabowo yang acap disampaikan dalam berbagai kesempatan adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.
Dapat dimaknai membangun persahabatan dengan berbagai kalangan di dunia adalah keniscayaan ketika hendak menciptakan kedamaian. Perdamaian dunia sulit terwujud selama masih terdapat konflik.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mendesak Pengawasan tanpa Pencitraan
Sementara fakta tidak terbantahkan konflik global masih saja terjadi hingga saat ini, seperti perang di Ukraina dan krisis kemanusiaan di Gaza hingga peran Israel-AS dengan Iran. Dampaknya kita tahu sangat luas , termasuk terhadap stabilitas ekonomi, keamanan, dan ketahanan nasional Indonesia.
