Menurut Airlangga, harga minyak yang dibeli pemerintah berada di kisaran USD 91–92 per barel. Sementara itu, rata-rata harga minyak hingga akhir 2026 diperkirakan mencapai sekitar USD 95 per barel.
“Dan sampai akhir diperkirakan rata-rata 95. Dan ini dari segi APBN kita bisa serap,” ujar Airlangga di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa situasi geopolitik global masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi harga energi pada periode berikutnya.
Hal yang Perlu Diketahui soal Harga BBM Subsidi
Berikut beberapa poin penting dari pernyataan pemerintah:
- Harga BBM subsidi: Pemerintah berkomitmen tidak menaikkan harga hingga akhir 2026.
- Harga ICP: Saat ini berada di kisaran USD 92 per barel, berdasarkan keterangan Bahlil.
- Asumsi APBN: Harga minyak mentah dalam anggaran ditetapkan sekitar USD 70 per barel.
- Proyeksi akhir tahun: Airlangga memperkirakan rata-rata harga minyak dapat mencapai USD 95 per barel.
Risiko anggaran: Kenaikan harga minyak berpotensi menambah kebutuhan subsidi energi, sementara kondisi geopolitik tetap perlu diperhatikan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 21 Oktober 2026 Turun Jadi Rp2.554.000 per Gram, Waktunya Beli?
Pemerintah Pantau Harga Minyak dan Kemampuan APBN
Komitmen mempertahankan harga BBM subsidi menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat di tengah perubahan harga energi global. Namun, kebijakan tersebut tetap bergantung pada pengelolaan anggaran dan perkembangan pasar minyak.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara kepastian harga BBM subsidi yang disampaikan pemerintah dan pergerakan harga minyak mentah sebagai salah satu faktor yang memengaruhi anggaran energi.
Untuk saat ini, Bahlil menegaskan bahwa BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026. Pemerintah juga menyatakan APBN masih mampu menyerap tekanan harga minyak berdasarkan proyeksi yang disampaikan.
Perkembangan selanjutnya tetap perlu dicermati, terutama jika harga minyak dunia bergerak di luar perkiraan pemerintah.
