Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Di tengah keberhasilan swasembada pangan, harga bahan pangan belakangan ini masih menjadi sorotan. Utamanya harga segala macam cabai.
Meski cabai bukan termasuk sembilan bahan pokok (sembako), tetapi kenaikan harga komoditas tersebut cukup mengusik perhatian publik, terlebih angka kenaikan cukup besar.
Data menyebutkan hingga kemarin, Senin, 20 Oktober 2026, harga cabai di sejumlah daerah masih bertengger di atas Rp100 ribu per kg. Bahkan, ada yang tembus Rp200 ribu karena barang langka akibat pasokan dari daerah produsen terhambat.
Cabai menjadi penyedap rasa selera masyarakat Indonesia pada umumnya.Masakan tanpa sambal terasa hambar, sambal menjadi menu hidangan wajib, maknanya cabai merupakan pelengkap kebutuhan pokok sehari – hari bagi rumah tangga.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Dua Tahun Pemerintahan, Publik Masih Menaruh Harapan
Tak heran jika harga cabai melonjak, tak sedikit emak-emak kelimpungan menambal pengeluaran ekstra, sementara penghasilan tetap.
“Repotnya lagi, karena tak ada sambal membuat suami nggak betah di rumah,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya mas Bro dan bang Yudi.
“Itu sih mengada-ada, cari-cari alasan saja,” celatuk Yudi.
“Maksudnya memilih makan di luar, misalnya di warteg, karena di rumah tidak tersedia sambal,” jelas Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Ironi, Bertugas Cegah Korupsi Malah Ikut Nikmati Hasil
“Karena itu sekalipun harganya melonjak, cabai tetap dibeli karena tadi, sambal menjadi menu wajib sehari-hari. Menjadi sorotan karena kenaikan harga kelompok cabai acap terjadi, jika tidak dikatakan rutin,” urai mas Bro.
“Cukup beralasan jika Kemendagri menurunkan tim ke daerah-daerah guna mengatasi kelangkaan cabai, sekaligus mengendalikan harga agar terjangkau masyarakat,” kata Heri.
“Setuju. Pengendalian harga adalah yang utama. Mewujudkan harga-harga yang terjangkau wajib adanya, menjadi kewajiban pemerintah,” ujar Yudi.
“Harga-harga yang tinggi tak hanya membebani masyarakat, membuat daya beli melemah, juga mendongkrak laju inflasi,” jelas Heri.
“Kembali kepada kenaikan harga cabai, banyak faktor penyebabnya, di antaranya jumlah produksi tidak mencukupi kebutuhan pasar, pasokan tersendat, distribusi tidak lancar,” ujar mas Bro.
“Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah pusat dan daerah. Bahkan, Pemda Garut baru – baru ini menggelar operasi pasar khusus cabai dengan harga murah. Kegiatan bertajuk Aksi Cabai Harga Terjangkau, merespons harga cabai yang saat ini lagi mahal,” kata Heri.
“Semoga ke depan cabai tetap terasa pedas, tetapi harganya semakin manis,” harap mas Bro.
