Ekonomika Pancasila: Kurikulum Ekopol Heterodoks

Rabu 21 Okt 2026, 07:00 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Prof. Yudhie Haryono, Ph.D (Sumber: Dok. Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Prof. Yudhie Haryono, Ph.D (Sumber: Dok. Poskota)

Kedua, kita bikin trias ekonomika jadi nyata, bukan hanya wacana. Sebab, trias ekonomikus itu kunci:

  • Bank Desa (bukan bank asing) harus hadir dan jadi pusat permodalan, bukan rentenir yang birokratis, mencekik dan memberatkan rakyat.
  • BUMDes sebagai pasar yang bertugas jadi offtaker. Ini yang bikin jual beli jadi waras dan manusiawi. BUMDes membeli hasil warga dengan harga berkeadilan. Bukan tengkulak.
  • KUD sebagai pusat tenaga kerja dan koperasi produksi milik bersama. Dengan KUD ini semua dapat bekerja, tidak ada pengangguran.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Presiden Prabowo dan Penyehatan Negara

Dari mereka, oleh mereka dan untuk mereka. Desa mandiri dan berdaulat. Kalau 3 lini berjalan, ekonomi heterodoks mentradisi dengan sendirinya.

Ketiga, kita harus terus semai pikiran, kurikulum dan bahasa. Ini penting karena ekonomi penjajah menang karena bahasanya keren: startup, unicorn, inklusi keuangan, dll. Para ekonom eterodoks harus bikin bahasa baru yang membumi:

  • Ganti istilah "value chain" jadi "rantai gotong royong"
  • Ganti "financial inclusion" jadi "kedaulatan modal desa"
  • Masukkan ke naskah akademik RUU, bahwa setiap UU ekonomi wajib ada pasal uji Pancasila.

Keempat, kita harus bikin jaringan, bukan sekadar komunitas epestemik. Hal ini karena ekonomi heterodoks mati kalau sendirian, mudah goyah jika tak ada barisan, mudah patah kalau tak jadi pasukan.

Karenanya, konsolidasi sekolah, kampus dan pesantren jadi sangat penting.

  • Kita harus temukan dosen yang anti-penjajah
  • Bikin gabungan gerakan serikat petani, serikat nelayan, forum guru
  • Bikin media alternatif seperti podcast, TikTok, buku kecil, Facebook, pamplet

Kelima, kita harus punya proyek percontohan yang untung dan stabil. Hal ini karena teori tanpa bukti adalah mati atau omong kosong.

Harus ada satu desa yang berhasil karena desa itu jadi laboratorium hidup. Singkatnya, rumus cepat memenangkan ekonomi heterodoks di Indonesia adalah sehatkan Bank Desa, BUMDes, KUD, serta hadirkan kurikulum berdikari, berdaulat, jenius dan membela kepentingan sesama pribumi tanpa pandang bulu.

Sebab, para pribumilah "pendiri negara, pemilik negara dan penguasa negara." Tetapi karena ribut sendiri (paregreg), bencana alam (disaster), invasi asing-aseng (kolonialisme) serta adu domba (devide et impera), kini pribumi jadi tamu dan budak di tanah airnya sendiri.

Agar jadi tuan, mari kita jalankan peta jalan ekonomi heterodoks:

Kita hindari perang dagang, tapi menangkan perang dapur dengan industrialisasi dan cintai, miliki, kembangkan produk sendiri.

Kita jadikan rupiah berdaulat (lewat Bank Desa) sebagai senjata utama. Mengapa ini penting? Karena kita sering kalah perang ekonomi dan perang uang. Rupiah kita dikontrol dollar sehingga lemah, depresiasi dan tak berdaulat.


Berita Terkait


News Update