POSKOTA.CO.ID - Memenangkan perang ekonomi itu penting. Tetapi, menyiapkan kader dan kurikulum ekopol, jauh lebih penting. Ini keniscayaan. Tak ada pilihan lain. Sebab, kejahatan terbesar itu bukan korupsi yang tidak tak terbatas, melainkan membuatnya jadi tradisi bahkan agama keseharian generasi setelah kita.
Di negara kita, berpikir alternatif belum terbiasa bertindak solutif bukan jadi tradisi. Padahal, kemenangan selalu berhubungan dengan alternatif, inovatif dan solutif jenius dari serangan kompetitor.
Karenanya, pikiran ekonomi heterodoks harus jadi kurikulum dan tradisi di tengah kompetisi dan perang ekonomi internasional.
Bagaimana cara menyuburkan ekonomi heterodoks? Tentu bukan cuma bikin teori baru, tapi bikin ekosistem yang hidup di semua sistem sekolah (sebagai laboratorium) dan di masyarakat (sebagai praksis keseharian).
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Beyond Oligark State
Lalu, agar resep dan teori-teorinya meluas, kita harus melakukan beberapa hal:
Pertama, kita harus cabut akar para penjajah ekonomi, bukan cuma pangkas daun. Ekonomi penjajah hidup dari 3 mitos yang diajarin di kampus:
- Pasar bebas itu efisien
- Negara tidak boleh intervensi
- Utang luar negeri itu baik.
Maka, cara ekonomi heterodoks menghapus mitos ini dengan data. Terutama data di desa.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mentradisikan Askiologi Ekopol Pancasila
Kita tidak perlu debat teori di seminar. Langsung bawa siswa ke Bank Desa, BUMDes, KUD. Tanya ke mereka: pasar bebas efisien untuk siapa? Peternak susu kambing mati karena susu impor, di mana efisiensinya? Saat rakyat cari modal, siapa yang menjaminnya?
Dengan jawaban dan data di desa, kita akan tahu bahwa ekonomi heterodoks subur kalau basis buktinya adalah penderitaan rakyat, bukan jurnal Scopus dan buku-buku ekonomi ortodoks.
