Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Patut bersyukur negara kita telah swasembada pangan, utamanya beras, Produksi beras melimpah, lebih dari mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Saking melimpahnya, perlu menambah gudang penyimpanan pangan sesuai standar, guna menyimpan stok beras cadangan nasional terus meningkat.
Namun, bicara soal pangan bukan saja perut kenyang, juga sehat dan bergizi, bebas dari bakteri serta aman dikonsumsi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Tanda-Tanda Reshuffle Mulai Terlihat
Cukup beralasan, jika salah satu tujuan peringatan Hari Pangan Sedunia, setiap tanggal 16 Oktober itu untuk mengingatkan kita semua bahwa akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi dan terjangkau adalah hak hak asasi manusia di mana pun berada, termasuk di negara kita.
Sayangnya belum semua hak asasi itu dinikmati semua orang. Kelaparan masih melanda dunia, belum lagi pangan yang aman dan bergizi serta terjangkau..
“Jadi satu poin negara kita telah melampaui dengan tersedianya pangan yang mencukupi, utamanya makanan pokok bagi penduduknya. Swasembada pangan, beras menjadi bukti,,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Lantas bagaimana dengan pangan yang aman dan bergizi?” tanya Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Berdampak Positif, WFH ASN Diperpanjang
“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi bagi rakyatnya. Hingga kini, berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), jumlah penerima manfaat sudah mencapai lebih dari 62 juta jiwa,” jawab Heri.
“Lantas bagaimana pula dengan pangan yang terjangkau?” tanya Yudi lagi.
“Kalau terjangkau dalam pengertian mengakses pangan sudah sangat mudah, tapi terjangkau dalam pengertian harga, masih mengundang perdebatan dengan beragam sudut pandang,” jelas mas Bro.
“Harga pangan terjangkau itu sifatnya relatif. Bagi kelompok tertentu, harga sangat terjangkau, tetapi tidak demikian bagi kelompok lain, utamanya bagi mereka yang berpenghasilan rendah, meski semahal apa pun harus tetap dijangkau karena merupakan kebutuhan pokok sehari – hari,” jelas Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Yuk, Kibarkan Merah Putih Meriahkan Bulan Kemerdekaan
“Poin pentingnya pada stabilitas harga pangan. Harga yang fluktuatif dan cenderung naik akan membebani masyarakat, paling terasa rakyat lapisan bawah dengan daya beli kian melemah,” urai mas Bro.
“Jadi ketersediaan pangan harus dibarengi dengan stabilitas harga, swasembada pangan harus pula berdampak kepada peningkatan pendapatan, utamanya para petani dan peternak,” kata Heri.
“Betul, karena merekalah yang tiada lelah menyediakan kebutuhan pangan penduduk Indonesia. Peningkatan produksi hendaknya diikuti dengan meningkatnya pendapatan,” harap mas Bro.
