Obrolan Warteg: Berharap DPR Dengar Suara Rakyat

Jumat 16 Okt 2026, 08:00 WIB
Obrolan warteg edisi hari ini, Jumat, 16 Oktober 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)
Obrolan warteg edisi hari ini, Jumat, 16 Oktober 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Oleh: Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID – Setiap 16 Oktober diperingati sebagai Hari Parlemen Indonesia. Peringatan tentunya tak sekadar seremonial, tetapi hendaknya menjadi momentum kian menguatkan peran parlemen dalam membangun bangsa dan negara.

Utamanya dalam menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat, di tengah masih rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif.

“Berbagai kalangan berharap anggota dewan kian peka mendengar suara rakyat,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Asap Tebal Karhutla Masih Berdampak, Perlukah Bantuan Asing?

“Bukan hanya mendengar, tetapi memperjuangkan suara rakyat,” tambah Yudi.

“Bukan cuma memperjuangkan, tetapi yang terpenting suara rakyat tercermin melalui keputusan politik sehingga semua kebijakan yang digulirkan sesuai kehendak rakyat, bukan semata kehendak anggota dewan,” urai mas Bro.

“Setuju. Jangan mengatasnamakan suara rakyat untuk kepentingan politiknya.Jangan mengatasnamakan kepentingan rakyat, tetapi tersembunyi kepentingan pribadi dan kelompoknya,” kata Heri.

“Jadi perjuangan harus tulus ya?” celatuk Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Ada Atau Tak Ada Kritik, Perbaikan Kinerja Harus Terus Dilakukan

“Selain tulus dan ikhlas, harus pula disertai dengan kejujuran bahwa apa yang dilakukan semata demi kepentingan rakyat,” kata Heri.

“Dengan dilandasi kejujuran, maka kepentingan pribadi, sepihak, kelompok, dan politik akan luluh dengan kepentingan yang lebih luas lagi, yakni kepentingan rakyat, bangsa dan negara,” jelas mas Bro.

“Biasanya kata “jujur” acap dilengkapi dengan “adil” sehingga menjadi jurdil ( jujur dan adil). Itulah mengapa proses politik harus dijalankan dengan jurdil, begitu juga dengan pengambilan keputusan politik,” kata Heri.

“Hanya saja jurdil mudah diucapkan, tetapi sulit dalam perbuatan seiring banyak godaan di sekitar kita, apalagi di dunia serba digital ini. Baik godaan jabatan, kekuasaan, fasilitas dan masih banyak lagi. Godaan terberat adalah tahta, harta dan wanita,” urai mas Bro.

“Jadi para wakil kian dituntut kejujuran mendengar suara rakyat, jujur dalam memperjuangkan serta jujur pula dalam merumuskan kebijakan sesuai kehendak rakyat,” kata Heri.

“Itu poin penting untuk mengatrol tingkat kepercayaan publik terhadap parlemen. Jika tidak, jangan harap kepercayaan publik kian meningkat, yang ada, boleh jadi stagnan di tingkat bawah,” kata Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Meraih Kebahagiaan Butuh Perjuangan dan Pengorbanan

“Jangan sampai suara rakyat menjadi rebutan jelang pemilu, begitu pemilu usai, terpilih sebagai anggota dewan, suara rakyat tak lagi didengar, dilirik pun tidak,” harap mas Bro.

“Jika sampai demikian namanya sebuah ironi,” kata Yudi.


Berita Terkait


News Update