“Dengan dilandasi kejujuran, maka kepentingan pribadi, sepihak, kelompok, dan politik akan luluh dengan kepentingan yang lebih luas lagi, yakni kepentingan rakyat, bangsa dan negara,” jelas mas Bro.
“Biasanya kata “jujur” acap dilengkapi dengan “adil” sehingga menjadi jurdil ( jujur dan adil). Itulah mengapa proses politik harus dijalankan dengan jurdil, begitu juga dengan pengambilan keputusan politik,” kata Heri.
“Hanya saja jurdil mudah diucapkan, tetapi sulit dalam perbuatan seiring banyak godaan di sekitar kita, apalagi di dunia serba digital ini. Baik godaan jabatan, kekuasaan, fasilitas dan masih banyak lagi. Godaan terberat adalah tahta, harta dan wanita,” urai mas Bro.
“Jadi para wakil kian dituntut kejujuran mendengar suara rakyat, jujur dalam memperjuangkan serta jujur pula dalam merumuskan kebijakan sesuai kehendak rakyat,” kata Heri.
“Itu poin penting untuk mengatrol tingkat kepercayaan publik terhadap parlemen. Jika tidak, jangan harap kepercayaan publik kian meningkat, yang ada, boleh jadi stagnan di tingkat bawah,” kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Meraih Kebahagiaan Butuh Perjuangan dan Pengorbanan
“Jangan sampai suara rakyat menjadi rebutan jelang pemilu, begitu pemilu usai, terpilih sebagai anggota dewan, suara rakyat tak lagi didengar, dilirik pun tidak,” harap mas Bro.
“Jika sampai demikian namanya sebuah ironi,” kata Yudi.
