Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Setiap 16 Oktober diperingati sebagai Hari Parlemen Indonesia. Peringatan tentunya tak sekadar seremonial, tetapi hendaknya menjadi momentum kian menguatkan peran parlemen dalam membangun bangsa dan negara.
Utamanya dalam menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat, di tengah masih rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif.
“Berbagai kalangan berharap anggota dewan kian peka mendengar suara rakyat,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Asap Tebal Karhutla Masih Berdampak, Perlukah Bantuan Asing?
“Bukan hanya mendengar, tetapi memperjuangkan suara rakyat,” tambah Yudi.
“Bukan cuma memperjuangkan, tetapi yang terpenting suara rakyat tercermin melalui keputusan politik sehingga semua kebijakan yang digulirkan sesuai kehendak rakyat, bukan semata kehendak anggota dewan,” urai mas Bro.
“Setuju. Jangan mengatasnamakan suara rakyat untuk kepentingan politiknya.Jangan mengatasnamakan kepentingan rakyat, tetapi tersembunyi kepentingan pribadi dan kelompoknya,” kata Heri.
“Jadi perjuangan harus tulus ya?” celatuk Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Ada Atau Tak Ada Kritik, Perbaikan Kinerja Harus Terus Dilakukan
“Selain tulus dan ikhlas, harus pula disertai dengan kejujuran bahwa apa yang dilakukan semata demi kepentingan rakyat,” kata Heri.
