“Apa pun hasil survei, rakyat yang lebih tahu dan merasakan hasil program pembangunan. Apakah program yang digulirkan telah memberikan manfaat bagi rakyat atau tidak, seberapa besar manfaat yang didapat. Atau sebaliknya belum memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Rakyat yang dapat merasakan langsung, termasuk soal harga-harga kebutuhan,” urai mas Bro.
“Bukankah survei itu cermin dari persepsi masyarakat?” tanya Yudi.
“Survei opini publik tentu menjadi salah satu variabel penilaian publik terhadap kinerja pemerintah. Meski begitu, biasanya survei sifatnya situasional, fluktuatif, dinamis, dan bisa berubah dalam waktu cepat,” jelas mas Bro.
“Mungkin enggak hasil survei dibalas dengan survei?” tanya Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Menunggu Masukan Wantimpres
“Mungkin saja, tetapi kita berharap tidak perlu terjadi perang survei yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan publik,” kata Heri.
“Lebih baik sikapi survei, dari lembaga mana pun dengan bijak. Jadikan survei eksternal sebagai pembanding, jika tidak sejalan dengan data internal yang dimiliki pemerintah,” ujar mas Bro.
“Dalam negara demokrasi, survei opini publik itu bagian dari partisipasi politik dalam melihat kinerja pemerintahan. Hasilnya patut kita hargai sebagai kritik dan saran,” jelas Heri.
“Jawablah dengan aksi nyata melakukan perbaikan kinerja. Ada atau tidak ada kritik, upaya perbaikan harus terus dilakukan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat, mewujudkan keadilan dan kemakmuran. Rakyat yang akan merasakan hasilnya,” urai mas Bro.
“Setuju Bro. Jangan bergerak karena kritik, jangan pula terhenti melangkah karena kritik,” kata Yudi.
