Di samping permohonan maaf, sebagian netizen Indonesia juga menyuarakan kekecewaan mereka terhadap lambatnya respons pemerintah dalam memadamkan titik api. Mereka berharap desakan dari masyarakat internasional dapat membuka mata pemerintah untuk menangani krisis karhutla secara lebih serius.
“Bantu kami menyuarakan ini ke dunia, karena pemerintah kami buta dan tuli,” tulis akun Threads @u*******z yang mengaku sudah 13 kali menggunakan nebulizer dalam lima hari terakhir akibat asap karhutla di Riau, dikutip Poskota pada Selasa, 13 Oktober 2026. (M7)
