Situbondo dan Serang Kolaborasi Hidupkan Jalan Raya Pos, Desa Didorong jadi Motor Ekonomi

Senin 12 Okt 2026, 09:08 WIB
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah (tengah) dan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo (kanan) dalam Kick Off Anyer–Panarukan 3R di Auditorium Bank BJB, Jakarta Selatan, Minggu, 11 Oktober 2026. (Sumber: Istimewa)
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah (tengah) dan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo (kanan) dalam Kick Off Anyer–Panarukan 3R di Auditorium Bank BJB, Jakarta Selatan, Minggu, 11 Oktober 2026. (Sumber: Istimewa)

“Kita ingin menjadikan Jalan Raya Pos ini sebagai pergerakan ekonomi. Kita bisa menumbuhkan UMKM, kita bisa menumbuhkan kuliner. Kemudian juga kita juga bisa menumbuhkan wisata, misalnya wisata religi dan juga sejarah,” tuturnya dalam talkshow seusai peluncuran program.

Baca Juga: Rekonstruksi Jalan Tol Japek Arah Jakarta 29 September - 5 Oktober 2025, Cek Titiknya

Menurut Ratu, pengembangan koridor sejarah perlu diarahkan agar membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal dan pengelola destinasi.

Dengan demikian, nilai sejarah tidak hanya menjadi bahan dokumentasi, tetapi juga dapat mendukung tumbuhnya aktivitas wisata, kuliner, dan usaha masyarakat.

Kolaborasi Situbondo dan Serang diharapkan menjadi langkah awal untuk mempertemukan potensi kedua daerah sekaligus mendorong partisipasi wilayah lain yang berada di sepanjang Jalan Raya Pos.

Menguatkan Akar Sejarah dan Identitas Lokal

Dari perspektif sejarah, Jalan Raya Pos memiliki arti penting dalam memahami perkembangan infrastruktur, pemerintahan, mobilitas, dan kehidupan sosial-ekonomi di Pulau Jawa.

Namun, pengembangan warisan sejarah perlu disertai dokumentasi yang cermat, pembacaan kritis atas konteks zamannya, serta pelibatan masyarakat yang hidup di sepanjang jalur tersebut.

Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof. Djoko Marihandono, peneliti sejarah “Anyer-Panarukan” dapat memperkuat perspektif sejarah dalam program ini dengan menekankan pentingnya penggunaan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan serta pengaitan sejarah dengan identitas masyarakat masa kini.

“Jalan Raya Pos tidak cukup dipahami hanya sebagai infrastruktur peninggalan masa lalu. Jalur ini perlu dikaji melalui sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus dibaca dalam konteks perubahan masyarakat, kebudayaan, dan kehidupan ekonomi di sepanjang jalurnya. Dengan begitu, pengembangan warisan sejarah dapat tetap berpijak pada fakta dan memberi makna bagi generasi sekarang,” kata dia.

Pendekatan tersebut relevan bagi pengembangan Anyer–Panarukan 3R, terutama untuk mendokumentasikan situs bersejarah, cerita masyarakat, tradisi lokal, serta potensi budaya yang berkembang di berbagai wilayah.

Sejarah Jalan Raya Pos juga perlu disampaikan secara utuh, termasuk konteks kolonial dan pengalaman masyarakat pada masa pembangunannya.

Di Situbondo, pengembangan narasi sejarah dapat dihubungkan dengan potensi Panarukan, Kota Tua Besuki, Pendopo Pate Alos, tradisi lokal, serta produk unggulan seperti kopi, batik, kuliner, dan kerajinan.


Berita Terkait


News Update