Listrik Picu 50 Persen Kebakaran di Jakarta, Warga Permukiman Padat Waswas

Minggu 11 Okt 2026, 10:26 WIB
Ilustras kebakaran di Jakarta. (Sumber: freepik)
Ilustras kebakaran di Jakarta. (Sumber: freepik)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Musim kemarau yang masih berlangsung di Jakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta mencatat sebanyak 1.437 kejadian kebakaran selama periode Januari-September 2026, dengan sekitar 50 persen di antaranya dipicu masalah kelistrikan.

"Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan seiring fenomena kemarau panjang akibat El Nino, serta periksa kembali instalasi listrik di hunian masing-masing," ujar Kepala Dinas Gulkarmat Jakarta, Bayu Meghantara, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Kondisi cuaca panas membuat upaya pencegahan perlu diperkuat, terutama di kawasan permukiman padat yang rawan kebakaran. Instalasi listrik yang tidak memenuhi standar, penggunaan stop kontak secara berlebihan, hingga kebiasaan mengisi daya ponsel di dekat benda mudah terbakar menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.

Ia mengingatkan masyarakat memeriksa kondisi kabel, stop kontak, sambungan listrik, serta peralatan elektronik yang digunakan dalam waktu lama. Penggunaan perangkat listrik yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) juga perlu dihindari untuk mengurangi risiko korsleting.

Baca Juga: Kebakaran di Kramat Senen Hanguskan Pemukiman Padat, Kabel Semrawut Diduga jadi Pemicu

Selain itu, masyarakat diminta tidak menumpuk steker pada satu stop kontak karena dapat memicu panas berlebih. Pengisian daya ponsel juga sebaiknya tidak dilakukan di atas kasur atau media lain yang mudah terbakar, terlebih jika perangkat dibiarkan dalam kondisi panas tanpa pengawasan.

Selain itu, kata Bayu, Gulkarmat Jakarta juga terus meningkatkan sosialisasi dan pelatihan pencegahan kebakaran di berbagai wilayah. Upaya tersebut turut menyasar pengelola gedung melalui Fire Safety Manager untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca panas.

"Paling sering terjadi pada bulan Juli dengan 217 kasus atau 17,85 persen dan terus meningkat pada Agustus yang menjadi bulan dengan kasus terbanyak, yakni mencapai 240 kasus," beber Bayu.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta telah mewajibkan setiap rukun tetangga (RT) memiliki satu hingga dua alat pemadam api ringan (APAR) sejak 2025. Namun, keberadaan alat tersebut perlu diikuti pemeriksaan berkala untuk memastikan kondisi, masa berlaku, dan kesesuaiannya dengan jenis kebakaran yang mungkin terjadi.

Baca Juga: Kebakaran 50 Bangunan di Senen, Dipastikan tanpa Korban Jiwa

Kesiapsiagaan menjadi penting mengingat karakteristik permukiman Jakarta yang banyak memiliki bangunan berdempetan dan gang sempit. Kondisi itu dapat menyulitkan petugas menjangkau titik api, terutama di lokasi yang minim sumber air untuk pemadaman.

Karena itu, Bayu mengimbau kepada masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran ketika insiden terjadi. Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, penyediaan APAR yang layak pakai, serta kewaspadaan terhadap sumber api di lingkungan rumah menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran selama musim kemarau.

"Setiap tahun pasti kami akan berupaya dan sudah teranggarkan juga untuk penambahan APAR yang di level RT," ucap Bayu.

Anggota Komisi A DPRD Jakarta, Kevin Wu, turut menyoroti insiden kebakaran yang semakin marak di tengah musim kemarau ini. Ia mendorong Pemprov Jakarta menyusun peta risiko kebakaran hingga tingkat RW. Langkah ini diperlukan agar pencegahan tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga mengantisipasi potensi kebakaran sejak dini.

Kevin mengapresiasi respons Gulkarmat DKI yang mengerahkan 19 mobil pemadam dan 95 personel dalam menangani kebakaran hingga api tidak meluas. Namun, ia menilai setiap kejadian harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pencegahan.

“Perlu kita ketahui, petugas damkar kita sudah bekerja keras ketika api menyala. Namun tantangan pemerintah sekarang adalah bagaimana hadir sebelum api itu muncul, jadi setiap kebakaran besar harus menghasilkan perbaikan sistem,” ujar Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tersebut.

Kevin mengusulkan 50 RW dengan risiko kebakaran tertinggi mendapat prioritas pemeriksaan instalasi listrik, kapasitas MCB, akses mobil pemadam, ketersediaan APAR, dan jalur evakuasi. Pemetaan juga perlu mempertimbangkan kepadatan bangunan, riwayat kebakaran, serta ketersediaan sumber air dan hidran.

“Menurut saya, pencegahan bukan mencari siapa yang bisa disalahkan. Pencegahan adalah menemukan titik risiko sebelum risiko itu berubah menjadi bencana,” ucapnya.

Dengan demikian, Kevin menegaskan, keberhasilan penanganan kebakaran tidak cukup diukur dari kecepatan petugas tiba di lokasi. Edukasi penggunaan listrik yang aman, pelatihan APAR, dan pelaporan dini oleh masyarakat juga perlu diperkuat agar kejadian kebakaran dapat ditekan.

“Pemerintah harus menggunakan data untuk mengetahui di mana risiko terbesar berada, siapa yang harus bergerak, dan apa yang harus diperbaiki sebelum api muncul,” tuturnya.

Ancaman kebakaran menjadi perhatian warga di tengah kondisi kemarau panjang yang melanda Jakarta. Warga yang tinggal di kawasan padat penduduk mengaku telah meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap penggunaan listrik dan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api.

"Berita kebakaran hampir setiap hari ada, pastinya saya waswas, apalagi di daerah tempat saya tinggal (Matraman, Jakarta Timur) kan beberapa kali kebakaran. Meksi agak jauh tapi khawatir secara rumahnya dempet-dempet," ujar Nanda, 36 tahun, kepada Pos Kota.

Menurut Nanda, kewaspadaan terutama diperlukan di kawasan permukiman yang rumahnya berdempetan. Jika terjadi kebakaran, api dinilai dapat dengan cepat merambat ke bangunan lain, terlebih ketika kondisi lingkungan sedang kering.

"Kebakaran itu kaya laka (kecelakaan lalu lintas) kita sudah hati-hati, setiap mau pergi cek sana cek sini, tapi tetangga kita lalai kan terdampak juga kita," bebernya.

Nanda berharap pemerintah meningkatkan pemeriksaan instalasi listrik dan menyediakan sarana pemadam kebakaran yang mudah dijangkau warga. Sosialisasi mengenai penggunaan alat pemadam api ringan dan langkah evakuasi juga dinilai penting agar masyarakat mengetahui tindakan yang harus dilakukan saat keadaan darurat.

“Pengennya sih ada pemeriksaan listrik secara berkala dan pelatihan untuk warga. Jadi, kuta tahu apa yang harus dilakukan ketika muncul api dan tidak hanya menunggu petugas datang,” harap bapak satu anak itu.


Berita Terkait


News Update