Listrik Picu 50 Persen Kebakaran di Jakarta, Warga Permukiman Padat Waswas

Minggu 11 Okt 2026, 10:26 WIB
Ilustras kebakaran di Jakarta. (Sumber: freepik)
Ilustras kebakaran di Jakarta. (Sumber: freepik)

Karena itu, Bayu mengimbau kepada masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran ketika insiden terjadi. Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, penyediaan APAR yang layak pakai, serta kewaspadaan terhadap sumber api di lingkungan rumah menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran selama musim kemarau.

"Setiap tahun pasti kami akan berupaya dan sudah teranggarkan juga untuk penambahan APAR yang di level RT," ucap Bayu.

Anggota Komisi A DPRD Jakarta, Kevin Wu, turut menyoroti insiden kebakaran yang semakin marak di tengah musim kemarau ini. Ia mendorong Pemprov Jakarta menyusun peta risiko kebakaran hingga tingkat RW. Langkah ini diperlukan agar pencegahan tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga mengantisipasi potensi kebakaran sejak dini.

Kevin mengapresiasi respons Gulkarmat DKI yang mengerahkan 19 mobil pemadam dan 95 personel dalam menangani kebakaran hingga api tidak meluas. Namun, ia menilai setiap kejadian harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pencegahan.

“Perlu kita ketahui, petugas damkar kita sudah bekerja keras ketika api menyala. Namun tantangan pemerintah sekarang adalah bagaimana hadir sebelum api itu muncul, jadi setiap kebakaran besar harus menghasilkan perbaikan sistem,” ujar Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tersebut.

Kevin mengusulkan 50 RW dengan risiko kebakaran tertinggi mendapat prioritas pemeriksaan instalasi listrik, kapasitas MCB, akses mobil pemadam, ketersediaan APAR, dan jalur evakuasi. Pemetaan juga perlu mempertimbangkan kepadatan bangunan, riwayat kebakaran, serta ketersediaan sumber air dan hidran.

“Menurut saya, pencegahan bukan mencari siapa yang bisa disalahkan. Pencegahan adalah menemukan titik risiko sebelum risiko itu berubah menjadi bencana,” ucapnya.

Dengan demikian, Kevin menegaskan, keberhasilan penanganan kebakaran tidak cukup diukur dari kecepatan petugas tiba di lokasi. Edukasi penggunaan listrik yang aman, pelatihan APAR, dan pelaporan dini oleh masyarakat juga perlu diperkuat agar kejadian kebakaran dapat ditekan.

“Pemerintah harus menggunakan data untuk mengetahui di mana risiko terbesar berada, siapa yang harus bergerak, dan apa yang harus diperbaiki sebelum api muncul,” tuturnya.

Ancaman kebakaran menjadi perhatian warga di tengah kondisi kemarau panjang yang melanda Jakarta. Warga yang tinggal di kawasan padat penduduk mengaku telah meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap penggunaan listrik dan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api.

"Berita kebakaran hampir setiap hari ada, pastinya saya waswas, apalagi di daerah tempat saya tinggal (Matraman, Jakarta Timur) kan beberapa kali kebakaran. Meksi agak jauh tapi khawatir secara rumahnya dempet-dempet," ujar Nanda, 36 tahun, kepada Pos Kota.

Menurut Nanda, kewaspadaan terutama diperlukan di kawasan permukiman yang rumahnya berdempetan. Jika terjadi kebakaran, api dinilai dapat dengan cepat merambat ke bangunan lain, terlebih ketika kondisi lingkungan sedang kering.


Berita Terkait


News Update