Mengenal Pes Pneumonik, Penyakit Diduga Renggut Nyawa Pekerja Lab di Rusia

Kamis 08 Okt 2026, 21:14 WIB
Ilustrasi pes pneumonik yang diduga menjadi penyebab kematian pekerja laboratorium di Rusia. (Sumber: Dok. Magnific/DC Studio)
Ilustrasi pes pneumonik yang diduga menjadi penyebab kematian pekerja laboratorium di Rusia. (Sumber: Dok. Magnific/DC Studio)

POSKOTA.CO.ID - Seorang pekerja laboratorium di Irkutsk, Siberia, Rusia, dilaporkan meninggal dunia diduga terjangkit pneumonia pada 2 Oktober 2026. Daria Shipilova (28) diketahui bekerja di Irkutsk Anti-Plague Research Institute.

Kematian Shipilova memunculkan kekhawatiran terkait kemungkinan penyebaran pes pneumonik, karena tempatnya bekerja merupakan lembaga yang melakukan penelitian terhadap penyakit tersebut.

Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi dari pihak Rusia perihal pes yang diderita Shipilova. Otoritas kesehatan Rusia masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Sekitar 200 orang yang sempat berkontak dengan Shipilova juga menjalani karantina sebagai langkah pencegahan. Di tengah kasus tersebut, pes pneumonik kembali menjadi perhatian karena penyakit ini dapat menyerang paru-paru dan menular antarmanusia.

Baca Juga: Lonjakan Influenza A di Kabupaten Tangerang, Dinkes Catat 30 Ribu Kasus pada Januari - September 2026

Mengenal Pes Pneumonik yang Serang Paru-Paru

Melansir laman resmi World Health Organization (WHO), pes pneumonik merupakan salah sebuah penyakit pes yang menyerang paru-paru. Penyakit ini disebabkan bakteri Yersinia pestis yang juga menjadi penyebab penyakit pes dalam bentuk lainnya.

WHO membagi penyakit pes menjadi tiga bentuk utama, yakni pes bubonik, pes septikemik, dan pes pneumonik. Ketiga bentuk tersebut dibedakan berdasarkan bagian tubuh yang terinfeksi.

“Pes pneumonik, atau pes yang menyerang paru-paru merupakan bentuk pes yang paling ganas. Masa inkubasinya dapat berlangsung hanya dalam 24 jam. Seseorang yang mengalami pes pneumonik dapat menularkan penyakit tersebut kepada orang lain melalui partikel pernapasan,” tulis WHO dikutip Poskota, Kamis, 8 Oktober 2026.

WHO menjelaskan, pes pneumonik yang tidak didiagnosis dan ditangani sejak dini dapat berakibat fatal. Namun, peluang kesembuhan tinggi apabila penyakit terdeteksi dan mendapat pengobatan dalam waktu 24 jam sejak gejala muncul.

Kenali Gejala Pes Pneumonik yang Muncul dengan Cepat

Gejala pes pneumonik dapat muncul dalam waktu singkat setelah seseorang terinfeksi. WHO menyebut gejala utama penyakit ini berupa sesak napas dan batuk, yang sering kali disertai dahak bercampur darah.

Baca Juga: Lonjakan Kasus ISPA di Jakarta 15 Persen, Epidemiolog Wanti-Wanti Bahaya Klaim Prematur Influenza A

Masa inkubasi pes pneumonik dapat berlangsung hanya sekitar 24 jam. Penyakit ini juga dapat berkembang dengan cepat apabila tidak segera mendapatkan diagnosis dan pengobatan.

Pes pneumonik yang tidak ditangani sejak dini dapat berakibat fatal. Namun, WHO menyebut peluang kesembuhan tinggi apabila penyakit tersebut terdeteksi dan mendapatkan pengobatan dalam waktu 24 jam sejak gejala mulai muncul.

Cara Cegah Pes Pneumonik

Untuk mengurangi risiko penularan, hindari kontak dekat dengan orang yang terinfeksi pes pneumonik. WHO juga menyarankan untuk menghindari kontak dengan cairan tubuh atau jaringan yang terinfeksi serta tidak menyentuh bangkai hewan yang berpotensi membawa bakteri Yersinia pestis.

Menjaga kebersihan tangan dengan mencucinya menggunakan sabun dan air atau cairan pembersih berbahan alkohol juga dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan.

Hingga saat ini, penyebab pasti kematian Daria Shipilova di Rusia masih dalam penyelidikan. Otoritas setempat belum menemukan bukti yang memastikan bahwa kematiannya disebabkan oleh pes pneumonik. (M7)


Berita Terkait


News Update