Kopi Pagi: Mendesak, Penguatan Ketahanan Mental

Kamis 08 Okt 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - “Untuk menjadi bangsa yang besar dan kuat, membutuhkan generasi penerus yang yang tak hanya unggul secara intelektual, juga tangguh secara mental. Bukan hanya jiwa yang sehat secara medik, waras dan berpikir jernih, namun jiwa perjuangan, jiwa kemandirian perlu terus dibangun dan dibangkitkan.” -Harmoko-

Masalah kesehatan jiwa, sering disebut kesehatan mental masyarakat Indonesia belakangan menjadi sorotan, menyusul potensi gangguan kesehatan jiwa penduduk dunia nyata adanya.

Organisasi Kesehatan Dunia - World Health Organization (WHO) merilis lebih dari 1 miliar orang di dunia yang kira – kira setara dengan 1 dari setiap 7 orang.

Hidup dengan gangguan kesehatan mental. Kecemasan dan depresi sebagai kondisi paling umum.

Baca Juga: Kopi Pagi: Petani Pahlawan Negeri

Sumber lain menyebutkan sekitar 40 persen Generasi Z di seluruh dunia melaporkan membutuhkan bantuan terkait kesehatan mental mereka. Sementara 4 dari 10 orang dewasa Generasi Z di dunia mengatakan mereka merasa cemas alias stres hampir sepanjang waktu.

Data ini menggambarkan bahwa anak – anak dan remaja rentan mengalami gangguan kesehatan mental oleh berbagai faktor penyebab. Ini masalah krusial, mengingat anak – anak merupakan masa depan bangsa, merekalah generasi penerus bangsa di negara manapun berada.

Begitu seriusnya masalah kesehatan jiwa (mental) hingga Badan Kesehatan PBB, WHO menetapkan "Hari Kesehatan Jiwa Dunia - World Mental Health Day" pada setiap tanggal 10 Oktober.

Lantas bagaimana dengan negara kita? Jawabnya tidak kalah krusialnya.

Baca Juga: Kopi Pagi: Pancasila Bukan Hafalan, tapi Pengalaman

Data Kementerian Kesehatan pada awal 2026 menunjukkan sekitar 5 persen anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan.

Temuan ini diperkuat hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Maret 2026 yang menyatakan satu dari sepuluh anak Indonesia menghadapi indikasi masalah kesehatan jiwa.

Dari sekitar 7 juta anak yang diskrining, 363.326 anak (4,8 persen) menunjukkan gejala depresi dan 338.316 anak (4,4 persen) mengalami gejala kecemasan. Namun, dari jumlah tersebut, hanya 2,6 persen anak dan remaja yang mendapatkan penanganan profesional.

Data ini selaras dengan rasio WHO yang menyebutkan 1 dari 8 sampai 1 dari 10 orang berpotensi mengalami gangguan mental. Rasio ini pun menjadi rujukan otoritas kesehatan di dunia, termasuk negara kita sebagaimana pernah disampaikan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, yang menyebutkan sekitar 28 juta orang Indonesia mengalami masalah kejiwaan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Lagi, Polemik Ambang Batas

Angka ini merujuk kepada jumlah penduduk saat itu diperkirakan sebanyak 280 juta jiwa.Jumlah penderita gangguan mental akan kian membesar seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang kini mendekati 300 juta jiwa. Belum lagi jika jarak rasio global WHO kian menyempit, tidak lagi 1 dari 10 orang, tetapi 1 dari 7 orang.

Ini menuntut penanganan gangguan mental yang lebih serius dan sungguh – sungguh, bukan hanya jumlahnya yang puluhan juta orang, tetapi hampir semua kelompok masyarakat memiliki risiko. Mulai anak dan remaja, kelompok usia produktif hingga lansia.

Anak – anak dan remaja memiliki risiko tinggi karena perkembangan emosi dan identitas serta rentan terhadap tekanan sekolah, pergaulan, perundungan dan pengaruh media sosial.

Kelompok usia produktif atau pekerja karena tuntutan kerja, target, persaingan, serta masalah ekonomi keluarga yang kerap mereka hadapi dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi.

Baca Juga: Kopi Pagi: Lagi, Polemik Ambang Batas

Perempuan dinilai lebih rentan akibat faktor biologis seperti hormonal, peran ganda di rumah dan tempat kerja, serta tekanan relasi dan kekerasan psikologis.

Masyarakat perkotaan juga disebut berisiko karena hidup dengan ritme cepat, tingkat kompetisi tinggi, biaya hidup mahal, serta hubungan sosial yang cenderung individual.

Terlebih bagi kelompok masyarakat dengan tekanan ekonomi dan sosial yang mendera kehidupannya, mulai dari “urusan dapur” hingga “tempat tidur”.

Menghadapi kenyataan yang demikian, penguatan ketahanan mental bukan lagi menjadi tuntutan, tetapi kebutuhan mendesak, utamanya menyiapkan generasi era kini menuju Indonesia Emas.

Baca Juga: Kopi Pagi: Ubah Kerentanan jadi Kekuatan

Generasi penerus akan terancam , jika kesehatan mental anak – anak dan remaja diabaikan, mengingat anak – anak saat ini tumbuh di lingkungan dengan tekanan yang semakin kompleks, di sisi lain belum dibekali kemampuan untuk memahami dan mengelolanya.

Kita tentu tak ingin kehilangan satu generasi karena tumbuh dalam tekanan ancaman kesehatan jiwa – mental yang rapuh. Karenanya kita semua perlu menciptakan lingkungan keluarga, sekolah, dan tempat kerja yang aman, saling mendukung, bukan membully dan menghakimi.

Untuk menjadi bangsa yang besar dan kuat, memasuki Indonesia Emas, membutuhkan generasi penerus yang yang tak hanya unggul secara intelektual, juga tangguh secara mental dan spiritualnya.

Bukan hanya jiwa yang sehat secara medik, waras dan berpikir jernih, namun jiwa perjuangan, jiwa kemandirian, jiwa kewirausahaan, perlu terus dibangun dan dibangkitkan, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Koi Pagi” di media ini..

Itulah upaya penguatan ketahanan mental yang memerlukan komitmen kuat semua pihak melalui aksi nyata dari para pemangku kepentingan untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat jiwa, raga dan sosialnya, jiwa kejuangannya, berkarakter kuat dan berdaya saing di masa depan.

Kita mesti sadar, karena demikianlah satu-satunya cara mengantarkan Indonesia menjadi negeri sejahtera, Indonesia yang berdaulat, adil makmur di masa depan.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Petani Pahlawan Negeri

News Update