Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Ada hal menarik disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) yang baru, Syahganda Nainggolan. Hal dimaksud soal aspirasi rakyat, pikiran rakyat dan suara rakyat serta kondisi riil masyarakat..
Menurut Syahganda, suara rakyat paling bawah harus sampai kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ini arahan langsung Presiden Prabowo agar pikiran orang-orang paling bawah didengar dan apa yang terjadi pada kondisi masyarakat paling bawah harus sampai ke telinga kepala negara. Sebaliknya, program – program pemerintah juga sampai kepada rakyat paling bawah.
Arahan tersebut, kata Syahganda di Gedung Bakom RI Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026, disampaikan saat dirinya bertemu dengan Presiden Prabowo di Hambalang, Minggu, 4 OKtober 2026.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Menunggu Masukan Wantimpres
“Jadi poin pentingnya bagaimana mendengarkan suara rakyat, termasuk yang paling bawah,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Suara rakyat termasuk kita – kita ini yang disalurkan melalui kolom “Obrolan Warteg” di media ini,” kata Yudi.
“Betul. Obrolan warteg adalah ngobrolin soal kehidupan sehari – hari, mulai dari “urusan dapur” hingga “tempat tidur”. Dari mulai kebutuhan pokok, sandang pangan hingga papan. Dari masalah rumah tangga, lingkungan warga hingga istana. Mulai dari isu ekonomi, sosial, budaya hingga politik yang sedang aktual,” urai mas Bro.
“Jadi obrolan warteg bisa menjadi cermin suara rakyat dari berbagai kalangan dan latar belakang status sosial ekonomi masyarakat sebagaimana konsumen warteg pada umumnya,” jelas Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Hadir Bantu Korban Bencana, Ketimbang Merayakan Ulang Tahun
“Jadi kalau mau mendengar suara rakyat, obrolan warteg bisa menjadi salah satu rujukan ya?” ujar Yudi.
”Itu sih maunya kalian yang mengisi obrolan warteg. Tetapi yang terpenting suara rakyat paling bawah jangan dipandang sebelah mata. Jangan karena rakyat kecil lantas suaranya diabaikan, dengan alasan rakyat kecil tahu apa,” kata Heri.
“Justru suara rakyat kecil itu lebih riil, tulus dan murni. Apa yang disuarakan adalah kenyataan mengenai kebutuhan riil dirinya, bukan menyuarakan untuk kepentingan yang lain – lain, terlebih bermotif politik kepentingan. Jadi nggak mengada – ada dan tidak pula neko - neko,” ujar mas Bro.
“Jika ada pejabat mengabaikan suara rakyat, memandang sebelah mata pikiran rakyat paling bawah berarti tak sejalan dengan kebijakan Presiden dalam menyerap aspirasi rakyat. Pejabat yang model begini perlu dievaluasi,” kata Yudi.
“Itulah mengapa sejak awal sering menjadi tuntunan agar setiap pejabat di level manapun harus dapat merasakan denyut nadi masyarakat, maknanya mampu memahami apa yang dirasakan rakyat, menjadi kehendak rakyat dan uneg – uneg rakyat,” kata Heri.
