POSKOTA.CO.ID - Pemerintah terus memutar otak untuk menyempurnakan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Baru-baru ini, Badan Gizi Nasional (BGN) merilis skema uji coba (piloting project) baru berupa penyajian makanan secara prasmanan langsung di dalam kelas.
Langkah ini diambil untuk mengevaluasi efektivitas distribusi sekaligus menjaga kualitas makanan yang diterima para siswa.
Alasan BGN Uji Coba Skema Prasmanan MBG di Berbagai Daerah
Uji coba skema prasmanan ini resmi berjalan di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan keterangan Kepala BGN, Sudaryono melalui channel YouTube Sudaryono, per 5 Oktober 2026, program ini telah diuji coba pada lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), salah satunya menampilkan di SPPG Kauman 02 Jepara.
Sudaryono menjelaskan bahwa ada beberapa pertimbangan utama di balik penerapan skema prasmanan ini.
Pertama, makanan disajikan lebih segar dan hangat karena diantar langsung dari dapur ke kelas tanpa delay waktu penyiapan yang panjang sehingga menekan risiko kerusakan makanan yang bisa memicu gangguan kesehatan.
Baca Juga: Benarkah Subsidi Energi Dipangkas Demi MBG? Ini Fakta Sebenarnya
Selain itu, skema ini dinilai efektif menekan food waste karena anak-anak yang masih lapar dapat menambah dari sisa porsi yang tersedia di kelas. Hal itu terbukti dari laporan awal uji coba yang menunjukkan tingkat kehabisan makanan cukup bagus.
Metode ini juga mengadaptasi sistem di Jepang melalui piket siswa, di mana siswa yang bertugas melayani teman-temannya dilatih menggunakan perlengkapan higienis demi membangun sikap mandiri dan kerja sama.
Tantangan Operasional dan Komitmen Evaluasi di Lapangan
Meskipun menjanjikan dari segi kualitas porsi dan edukasi, pelaksanaan prasmanan di ruang kelas membutuhkan koordinasi tingkat tinggi. Sudaryono mengakui bahwa skema ini menuntut pelatihan (training) yang cukup, baik untuk pengelola dapur SPPG maupun pihak sekolah.
Standarisasi kebersihan dan keamanan pangan menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Masa uji coba ini sengaja dirancang bukan hanya untuk melihat keberhasilan, melainkan juga untuk mendata berbagai persoalan teknis di lapangan agar dapat dibenahi sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Baca Juga: BGN Terapkan Aturan 4 Jam, Sudaryono: Lewat Batas, Jangan Dimakan
Pro Kontra Netizen
Langkah uji coba prasmanan ini memantik ragam reaksi publik di media sosial. Sejumlah netizen mempertanyakan efisiensi waktu pelaksanaan prasmanan, sebab alokasi waktu untuk antre, melayani makanan, hingga pembersihan dikhawatirkan akan memotong jam pelajaran efektif siswa di sekolah.
Di sisi lain, publik menyuarakan pentingnya transparansi standar kebersihan dapur SPPG, di mana sebagian netizen berpendapat bahwa konsep prasmanan akan lebih ideal dan terjamin jika diberdayakan melalui kantin sekolah masing-masing.
Perubahan mekanisme penyaluran yang terus berganti ini juga memicu anggapan sinis yang menilai pemerintah masih melakukan uji coba berulang dalam pengelolaan anggaran program skala nasional tersebut.
Perubahan skema MBG menjadi prasmanan memang membawa angin segar bagi kualitas dan kesegaran santapan siswa. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada sejauh mana BGN dan sekolah mampu mengatasi kendala waktu, higienitas, serta merespons masukan dari masyarakat. (m6)
Baca Juga: Kasus Keracunan Massal MBG Terulang, Sertifikat Laik Higiene SPPG Panyandaan Terancam Dicabut