Prabowo Reshuffle Kapolri dan Kabinet, Pengamat: Pengaruh Poros Solo Dikurangi

Jumat 02 Okt 2026, 06:56 WIB
Presiden Prabowo Subianto. (Sumber: Instagram/@presidenrepublikindonesia)
Presiden Prabowo Subianto. (Sumber: Instagram/@presidenrepublikindonesia)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro menilai pergantian Kapolri dan reshuffle Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi sinyal perubahan relasi kekuasaan antara Poros Solo dan pemerintahan.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan upaya Prabowo memperkuat kendali pemerintahan sekaligus mengurangi pengaruh Poros Solo. Pergantian Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri yang kemudian ditempatkan sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) menunjukkan adanya upaya menormalisasi hubungan antara Poros Solo dan Poros Hambalang.

"Kalau saya di banyak kesempatan menyampaikan bahwa secara institusional ya, ini me-relaksasi relasi antara Poros Solo dengan Poros Hambalang," kata Agung kepada Poskota, Kamis, 1 Oktober 2026.

Agung mengatakan, meski Listyo tetap mendapat posisi strategis di lingkungan Istana, jabatan tersebut dinilai tidak memiliki posisi yang sama dengan ketika dirinya memimpin Korps Bhayangkara. Perubahan posisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran peran dan pengaruh Listyo dalam struktur kekuasaan pemerintahan saat ini.

Baca Juga: Prabowo Ganti Kapolri, Pengamat: Ini Bukan Tanda Jokowi-Prabowo Pecah Kongsi

"Terlepas misalkan Pak Sigit masih mendapat posisi sebagai Kepala KSP dan Bintang Mahaputra Adipurna, tapi posisi beliau tidak sestrat-sestrategis sebelumnya sebagai Kapolri," ujarnya.

Selain Listyo, ia menyoroti pergantian Pratikno dari posisi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) yang kemudian digantikan Sugiono dalam reshuffle kabinet oleh Prabowo pada Kamis. Menurut Agung, Pratikno selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh yang berada di lingkar pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

"Karena Pak Pratikno kan lingkar terdalam Presiden Jokowi ya," ucapnya.

Ia menilai perubahan tersebut menunjukkan keinginan Prabowo untuk menempatkan seluruh poros politik dalam posisi yang lebih seimbang. Menurutnya, langkah itu juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan pemerintahan menghadapi dinamika politik menjelang Pemilu 2029.

Baca Juga: Dirjenpas Mashudi Mundur, Menteri Imipas Sebut Pertanggungjawaban Moral Kasus Lapas Cibinong

"Termasuk dengan Cikeas, dengan Teuku Umar, bahkan sekarang dengan Solo. Karena kemungkinannya nanti jelang 2029 bisa jadi tidak berpasangan juga," tuturnya.


Berita Terkait


News Update