“Setuju. Batik sebagai warisan leluhur, bukan hanya kain bermotif indah, tetapi juga simbol dari sejarah, filosofi, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun,” urai mas Bro.
“Betul Bro.Berbagai sumber menyebutkan, batik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13, ada yang menyebut sejak abad ke-7. Kian populer saat Kesultanan Mataram, berlanjut Kasunan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta,” kata Heri.
“Kian diperlukan kreativitas para perajin dan desainer untuk terus menghidupkan batik dalam berbagai bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan begitu batik akan menjadi simbol kekuatan budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya,” kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Urgensi Wacana Perpanjangan Masa Jabatan Kades
“Karena itu setiap acara – acara resmi saya memakai batik, misalnya kondangan, rapat perusahaan, terima tamu, bersilaturahmi, menghadap pejabat negara juga memakai batik,” ujar mas Bro.
“Mengapa menghadap pejabat negara perlu memakai batik?” tanya Yudi.
“Untuk menunjukkan bahwa batik itu bukan sebatas simbol kekuatan budaya bangsa, juga layak digunakan dalam setiap acara resmi, mulai dari hajatan hingga kenegaraan. Batik adalah pakaian bergengsi dalam setiap situasi, wujud keberagaman yang tidak pula membedakan kelas sosial, ” jelas mas Bro.
