Ekonomika Pancasila: Dari Negara Gotong Royong ke Republik Gotong Nyolong

Rabu 30 Sep 2026, 08:03 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Prof. Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Prof. Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

Dahsyat. 5 prestasi tingkat dunia didapat Indonesia pada 2026.

Pertama, juara satu negara termiskin di antara negara miskin di dunia; kedua, juara satu negara produsen konglomerat dan oligark; ketiga, juara satu penduduk rentan miskin (64%) di dunia; keempat, juara empat ketimpangan di Asean; kelima, juara satu pengampun bisnis haram konglomerat dan oligark di Asean.

Jika menggunakan analisa fenomenologis, fungsionalis dan strukturalis maka ujung jawabannya adalah karena negara ini mengkhianati konstutusi. Sebab, bernegara itu berkonstitusi.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Saat Utang Menjadi Senjata Kolonisasi

Makin konstitutif kita bernegara, pasti makin sejahtera dan bermartabat di dunia. Begitupula sebaliknya. Yang jadi pertanyaan, konstitusi yang mana? Sebab kita punya dua konstitusi: yang asli dan yang palsu (penggantinya).

Secara psikologis, bagi para pengkhianat, konstitusi asli adalah nasionalisme sempit. Sedangkan bagi para patriot, konstitusi palsu adalah penjajahan baru. Kedua agensi dan mazhab yang bertengkar sudah menghasilkan ledakan yang tidak tak terpikirkan sebelumnya: kelumpuhan dan sekaratnya bangsa yang tak sudah-sudah.

Kedua agensi dan mazhab percaya bahwa anak haram konstitusi palsu itu neoliberalisme. Ia juga ancient crime (kejahatan purba) yang terus menyempurna. Ia datang tanpa diundang, pergi harus diusir dan dimakamkan secepatnya.

Neoliberalisme adalah naluri ketamakan individu (basic instinct) yang terlembaga dalam banyak wajah. Ia hidup mengabadi dengan menciptakan kasta feodalisme dan fasisme mutakhir yang anti kemanusiaan.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Pokok-Pokok Pikiran Rizal Ramli

Neoliberalisme membuat hari-hari kita makin gelap dan tercekik, keadaan semakin berat, situasi makin panas. Tak ada cahaya, hanya kobaran api yang menerangi, membakar dan mengabukan jalan rakyat di negeri ini. Semua pingsan dan siuman untuk sekarat kembali.


Berita Terkait


News Update