JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - BMKG memprediksi cuaca panas ekstrem dan periode kering masih akan menerjang wilayah Jakarta serta sejumlah daerah di Indonesia hingga Oktober 2026.
Menanggapi hal tersebut, DPRD DKI Jakarta mendesak Pemprov DKI untuk meningkatkan status kesiapsiagaan guna melindungi warga dari ancaman krisis kesehatan publik.
Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Jakarta, Judhistira Hermawan menyarankan pemerintah daerah mengadopsi panduan Heat-Health Action Plans (HHAPs) terbitan WHO sebagai acuan penanganan.
"Panduan HHAPs dari WHO bisa menjadi salah satu acuan penting untuk memperkuat peringatan dini, respons cepat, hingga perlindungan kelompok rentan," kata Judhistira, Rabu, 23 September 2026.
Baca Juga: DPRD Jakarta Kawal Penanganan Air Bersih untuk Warga Pulau Kelapa dan Panggang
Petakan Pekerja Luar Ruangan hingga Lansia
Anggota DPRD Jakarta, Habib Muhammad menegaskan pentingnya pemetaan populasi yang paling berisiko tinggi terpapar dampak suhu ekstrem.
Prioritas perlindungan harus menyasar kelompok lansia, penderita penyakit kronis, ibu hamil, anak-anak, serta para pekerja harian yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Habib meminta Pemprov DKI tidak sekadar merilis peringatan cuaca, tetapi juga menyampaikan panduan taktis perlindungan diri yang mudah dipahami masyarakat.
"Informasi cuaca harus diterjemahkan menjadi langkah konkret perlindungan diri agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan," ujarnya.
Pakar Kesehatan Wanti-Wanti Ketahanan Faskes
Pakar Kesehatan Universitas YARSI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan Pemprov DKI untuk menguji ketahanan fasilitas kesehatan dalam menghadapi potensi lonjakan pasien akibat cuaca panas.
Ia mendorong penguatan sistem surveilans kesehatan yang terintegrasi dengan data iklim untuk mengukur dampak paparan panas secara real-time.
Selain jangka pendek, penataan lingkungan melalui perbanyak ruang terbuka hijau (RTH) juga mendesak dilakukan untuk mengurangi dampak efek pulau panas (urban heat island).
"Kesiapan harus dilakukan sejak sekarang. Surveilans penyakit akibat cuaca panas harus menjadi pedoman respons agar kita tidak terlambat," ucap Tjandra.
