Furosemide Obat Apa? Zat Terlarang yang Bikin Pitchamon Opatniputh Diskors di Asian Games 2026

Selasa 22 Sep 2026, 12:39 WIB
Furosemide menjadi sorotan setelah atlet Thailand Pitchamon Opatniputh diskors sementara di Asian Games 2026. (Sumber: Instagram/@pinkkk_opat)
Furosemide menjadi sorotan setelah atlet Thailand Pitchamon Opatniputh diskors sementara di Asian Games 2026. (Sumber: Instagram/@pinkkk_opat)

Kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk membantu penurunan berat badan secara cepat.

Selain itu, penggunaan diuretik dalam konteks olahraga dapat menjadi perhatian karena perubahan cairan tubuh juga dapat berkaitan dengan upaya menyamarkan keberadaan zat terlarang tertentu.

Karena alasan tersebut, keberadaan furosemide dalam daftar zat terlarang menjadi bagian dari aturan antidoping yang harus dipatuhi atlet.

Baca Juga: BGN Pecat Karyawan SPPG Bantul yang Viral Ejek Korban Keracunan MBG di Karo

Untuk Kondisi Apa Furosemide Digunakan?

Dalam penggunaan medis, furosemide dapat diberikan untuk sejumlah kondisi yang membutuhkan pengeluaran cairan dari tubuh.

Berdasarkan informasi yang tercantum, obat ini dapat digunakan pada beberapa kondisi berikut:

  • Edema: Sebagai obat lini pertama pada edema yang disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, penyakit ginjal, serta sindrom nefrotik.
  • Edema serebral dan edema paru: Sebagai terapi tambahan pada kondisi yang membutuhkan diuresis cepat, termasuk dalam pengobatan hiperkalsemia.
  • Hipertensi: Dapat digunakan sebagai terapi hipertensi secara tunggal maupun dikombinasikan dengan diuretik lain seperti spironolakton.

Berapa Dosis Furosemide yang Digunakan?

Furosemide tersedia dalam sejumlah bentuk sediaan, termasuk tablet 40 mg dan injeksi 20 mg.

Dosis penggunaannya dapat berbeda bergantung pada kondisi medis, respons pasien, serta bentuk pemberian obat. Dalam sumber serupa, dosis yang disebutkan antara lain:

  • Edema akibat gagal jantung kongestif, gagal ginjal, asites, hipertensi, oliguria nonobstruktif, dan edema paru: Furosemide tablet diberikan dengan dosis awal 20 mg hingga 80 mg. Dosis pemeliharaan dapat ditingkatkan secara bertahap 20 hingga 40 mg per dosis setiap 6 sampai 8 jam, dengan dosis maksimum sehari 600 mg.
  • Pemberian melalui suntikan intravena atau intramuskular: Dosis yang digunakan 10 mg hingga 20 mg dan dapat diulangi dalam waktu 2 jam apabila respons diuresis tidak memadai.
  • Pemberian melalui infus intravena: Dosis awal 0,1 mg per kg berat badan, kemudian dapat ditingkatkan dua kali lipat setiap 2 jam hingga dosis maksimal 0,4 mg per kg per jam.
  • Pengobatan hiperkalsemia: Furosemide tablet diberikan 10 mg hingga 40 mg sebanyak empat kali sehari. Sementara untuk pemberian intravena, dosis yang tercantum adalah 20 mg hingga 100 mg setiap 1 sampai 2 jam.

Apa Saja Efek Samping Furosemide?

Sebagai obat diuretik, furosemide dapat menimbulkan efek samping, terutama karena meningkatkan pengeluaran cairan dan elektrolit melalui urine. Beberapa efek sampingnya yakni sebagai berikut:

  • Hipokalemia: Seperti loop diuretik lainnya, furosemide dapat menyebabkan kadar kalium dalam tubuh menurun.
  • Peningkatan asam urat dan gula darah: Penggunaan furosemide juga dapat menyebabkan peningkatan kadar asam urat dan kadar gula darah.
  • Gangguan saluran pencernaan: Efek yang dapat muncul antara lain mual, muntah, penurunan nafsu makan, iritasi pada mulut dan lambung, serta diare.
  • Gangguan lainnya: Furosemide juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran, sakit kepala, pusing, dan penglihatan kabur.
  • Efek samping berat: Beberapa efek yang lebih serius yang tercantum antara lain anemia aplastik, anemia hemolitik, trombositopenia, leukopenia, agranulositosis, dan eosinofilia.

Berita Terkait


News Update