Sektor W seluas 1.120 mil laut persegi disisir KAL Anyer. Sementara sektor Y memiliki luas sekitar 497 mil laut persegi dengan pengerahan KP Sanjaya dan KRI Lepu.
Adapun sektor Z yang memiliki luas sekitar 809 mil laut persegi disisir KN SAR Barsu Dewa milik Basarnas Lampung dan KN SAR Antasena milik Basarnas Jakarta.
"Dengan pembagian sektor ini, tim SAR terus memperluas penyisiran di kawasan Selat Sunda yang memiliki kondisi laut dinamis. Terlebih, pencarian berlangsung di sekitar Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III atau Siaga," ujarnya.
Baca Juga: Liput Erupsi Anak Krakatau, 5 Jurnalis Banten Hilang Kontak di Selat Sunda
Al Amrad menuturkan, kondisi cuaca di perairan Selat Sunda pada Minggu pagi relatif berawan. Angin bertiup ke arah tenggara dengan kecepatan 10-20 knot, sementara tinggi gelombang berkisar 0,5 hingga 2,5 meter. Adapun arus permukaan bergerak ke arah barat daya.
"Kami senantiasa berkoordinasi dengan PVMBG. Status Anak Gunung Krakatau tetap Siaga 3. Untuk aktivitas sampai hari ini tidak ada erupsi," tuturnya.
Sementara itu, satu-satunya unsur udara dalam operasi hari keenam, yakni helikopter HR 3604 milik Basarnas, masih disiagakan di Bandara Atang Sanjaya, Bogor.
Helikopter belum langsung diterbangkan untuk melakukan penyisiran karena faktor jarak pandang. Pada pencarian udara sebelumnya, jarak pandang hanya sekitar 1,5 kilometer pada ketinggian 500 kaki.
"Untuk sektor udara hari ini standby di ATS. Mengingat hasil pencarian visual udara kemarin menggunakan helikopter, visibility hanya 1,5 kilometer di ketinggian 500 feet," bebernya
"Jika kondisi cuaca memungkinkan dan penerbangan dinilai aman, helikopter akan kembali dikerahkan untuk menyisir wilayah Selat Sunda," sambungnya.
Ia menambahkan, ada sekitar 300 personel terlibat dalam operasi SAR hari keenam ini yang diterjunkan.
"Jumlah itu bersifat fluktuatif karena adanya pergantian personel maupun unsur kapal yang terlibat dalam pencarian," pungkasnya.
