Dari sejumlah tokoh yang namanya tercantum di buku Islam ala Prabowo, setidaknya ada tiga orang yang mengaku tidak pernah berpartisipasi dalam penulisan buku itu.
Ketiganya, yakni Muhammad Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, dan KH Said Aqil Siraj.
Baca Juga: BAZNAS Buka Suara Soal Buku 'Islam Ala Prabowo', Tegaskan Bebas Dana ZIS
1. Gus Kautsar
Baru-baru ini, istri Gus Kautsar yang bernama Jazilah Annahdliyah atau yang akrab disapa Ning Jazil mempertanyakan pencatutan nama sang suami dalam buku Islam ala Prabowo.
Ia menyebut sang suami, Gus Kautsar tidak pernah berpartisipasi dalam pembuatan buku tersebut, maupun dimintai izin untuk mencantumkan nama ke dalam buku itu.
Protes tersebut disampaikan Ning Jazil lewat kolom komentar di sebuah postingan yang membahas buku tersebut.
"Kok bisa ada nama suami saya?? Gus Kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu???" Komentar akun Instagram @zil_hb pada postingan @kabarmahasiswa.id, seperti dikutip pada Selasa, 8 September 2026.
Ia menjelaskan bahwa pada saat itu memang ada seseorang yang datang mewawancarai Gus Kautsar, namun tidak menjelaskan bahwa hal tersebut untuk keperluan membuat buku yang sedang ramai diperbincangkan saat ini.
"Saat itu jawaban Gus hanya harapan2 terbaik untuk pemimpin, tidak faham kl mau dimasukkan ke buku tersebut, kl mencatut nama dlm buku apalagi berbau politik minimal pamit dulu," kata Ning Jazil seperti yang tertera dalam tangkapan layar yang dibagikan akun @kabarmahasiswa.id.
2. Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi
Selain Gus Kautsar, nama ulama asal terkemuka asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, yaitu Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi juga membantah ikut menulis buku tersebut.
Dalam tangkapan layar yang dibagikan akun @kabarmahasiswa.id, akun media sosial Tuan Guru Bajang membalas salah satu komentar warganet yang mempertanyakan keterlibatannya dalam penulisan buku Islam ala Prabowo.
TGB lalu menegaskan bahwa ia sama sekali tidak pernah mengirim tulisan untuk diterbitkan dalam buku tersebut.
