"Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Minggu, 06 September 2026, pukul 20:23 WIB. Tinggi kolom erupsi tidak teramati. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 58 mm dan durasi 44 detik," k Badan Geologi melalui akun X @badangeologi.
Sementara itu, pada Senin, 7 September 2026 pagi hari aktivitas letusan Anak Karakatau disebut masih terjadi, namun letusannya mulai mengecil jika dibandingkan dengan erupsi sebelumnya.
PVMBG pun terus berupaya melakukan pemantauan penuh selama 24 jam untuk mengantisipasi potensi bahaya dan erupsi yang kembali terjadi dengan skala yang lebih besar.
Baca Juga: Antisipasi Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemkab Pandeglang Pertimbangkan Liburkan Sekolah
Masyarakat Diimbau Tetap Waspada
Meski erupsi Gunung Anak Krakatau mulai melemah, namun masyarakat diimbau untuk tetap waspada karena abu vulkanik akibat ketuasn masih bertebaran.
BBMKG Wilayah II menuturkan, sebaran abu vulkanik dapat berakibat buruk bagi masyarakat karena bisa menurunkan kualitas udara hingga mempengaruhi kondisi kesehatan.
"Masih terdapat sebaran Abu vulkanik yang menurunkan kualitas udara dan jarak pandang, serta pada ketinggian tertentu dapat mengganggu penerbangan," isi pernyataan terbaru BBMKG Wilayah II.
Berdasarkan pantauan citra sebaran yang dirilis pukul 05.00 WIB, abu bergerak menjauhi gunung ke arah tenggara hingga barat laut yang mencakup sejumlah wilayah di sekitarnya, mulai dari Banten, sebagian Jakarta, Lampung, hingga Jawa Barat.
