Karhutla Masih Jadi Perhatian, 818 Hotspot Terdeteksi di Indonesia

Minggu 06 Sep 2026, 10:59 WIB
Tim gabungan melakukan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di wilayah prioritas untuk mencegah api meluas serta memastikan titik panas segera diverifikasi di lapangan. (Sumber: Kemenhut)
Tim gabungan melakukan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di wilayah prioritas untuk mencegah api meluas serta memastikan titik panas segera diverifikasi di lapangan. (Sumber: Kemenhut)

Selain operasi di darat, pemerintah juga mengerahkan 53 armada udara di enam provinsi prioritas. Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada lainnya menjalankan water bombing.

Pengerahan armada disesuaikan dengan kondisi lapangan. Cara ini diperlukan terutama untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit ditangani melalui jalur darat.

Hujan Bantu Redam Karhutla di Kalbar

Kondisi di Kalbar menunjukkan perkembangan yang lebih positif setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sebagian wilayah pada Kamis (4/9/2026).

Hujan membantu membasahi lahan dan mendukung proses pemadaman. Namun, kondisi tersebut belum membuat kewaspadaan diturunkan sepenuhnya, terutama di kawasan gambut.

Lahan gambut menjadi perhatian karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya terlihat sudah padam. Proses pendinginan pun harus dilakukan berulang untuk memastikan bara benar-benar hilang.

“Kondisi ini menjadi perhatian khusus pada lahan gambut. Pemadaman dan pendinginan harus dilakukan secara berulang untuk memastikan api bawah permukaan benar-benar padam dan tidak kembali menyala,” ungkap Ristianto.

Baca Juga: Kenapa Kantor BGN Pindah ke Gedung Telkom? Ini Penjelasan Sudaryono

Kualitas Udara dan Jarak Pandang Tetap Dipantau

Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap titik panas dan kondisi api. Pemerintah juga mengikuti perkembangan kualitas udara, sebaran asap, cuaca, serta jarak pandang.

Mayoritas wilayah Indonesia masih berada dalam kategori kualitas udara baik hingga sedang berdasarkan parameter PM2,5. Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan masih mencatat kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Jarak pandang juga menjadi perhatian. Pada Sabtu (5/9/2026), Pontianak dan Banjarmasin diprakirakan memiliki jarak pandang sekitar 10 kilometer pada waktu tertentu.

Sementara itu, Pekanbaru masih perlu diwaspadai karena BMKG memprakirakan udara kabur pada pagi hari. Jarak pandang diperkirakan kurang dari lima kilometer sekitar pukul 05.00 WIB dan kurang dari enam kilometer sekitar pukul 08.00 WIB, sebelum berangsur membaik pada siang hingga sore.

“Kondisi asap dan jarak pandang dapat berubah dengan cepat mengikuti aktivitas kebakaran, curah hujan, arah dan kecepatan angin, kelembapan, serta dinamika atmosfer,” jelasnya.


Berita Terkait


News Update