JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Di tengah maraknya pemerintah daerah berlomba-lomba meluncurkan berbagai aplikasi digital, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karawang, Asep Aang Rahmatullah, melontarkan kritik penting.
Menurutnya, keberhasilan transformasi digital pemerintahan tidak diukur dari seberapa banyak aplikasi yang dibangun, melainkan sejauh mana teknologi tersebut menyelesaikan masalah konkret warga.
Hal tersebut ditegaskan Asep Aang saat menjadi pembicara dalam forum JAKI & Fellowship Cities Forum: Sharing Best Practices in Digital Transformation and Public Innovation yang digelar di Jakarta Smart City, Kamis, 20 Agustus 2026.
Dalam sesi General Session bertajuk “Smart City Beyond Technology: Leadership, Innovation, and Impact for Better Cities”, ia menekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai pusat dari setiap inovasi digital.
Baca Juga: Saige Resmikan Pabrik Kedua di Karawang, Luncurkan 5 Kendaraan Listrik Terbaru
“Transformasi digital di Karawang itu suatu keniscayaan. Ada banyak aplikasi yang muncul, tetapi pertanyaannya: apakah aplikasi itu bisa menjawab permasalahan di masyarakat?” ujar Asep Aang di hadapan para praktisi dan pengambil kebijakan perkotaan.
Aplikasi Tangkar Kunci Karawang Bangun Kepercayaan Publik
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Karawang mengandalkan platform Tanggap Karawang (Tangkar). Nama yang unik ini disengaja agar mudah diingat sekaligus merepresentasikan keterikatan dengan kuliner khas daerah.
Namun, kekuatan utama Tangkar bukan pada namanya, melainkan pada ekosistem penanganan aduan yang terintegrasi.
Melalui Tangkar, setiap laporan warga tidak berhenti sebagai tumpukan data. Sistem ini terhubung langsung dengan berbagai dinas hingga instansi vertikal di daerah, memungkinkan warga memantau proses penyelesaian laporan secara real-time.
Baca Juga: Bupati Karawang Lepas 1.937 Peserta Mudik Gratis
Setiap tahunnya, Tangkar mencatat rata-rata 6.000 hingga 7.000 pengaduan yang masuk. Asep Aang menilai tingginya angka ini justru bukan cermin dari banyaknya masalah, melainkan indikator tumbuhnya kepercayaan (public trust) masyarakat terhadap responsivitas pemerintah daerah.
Laporan yang masuk pun beragam, mulai dari isu infrastruktur hingga masalah teknis sederhana seperti kendala lupa kata sandi layanan publik. Ini membuktikan bahwa warga kini melihat Pemkab Karawang sebagai pihak yang hadir dan bisa diandalkan.
Lebih lanjut, Asep Aang mengingatkan bahwa teknologi mutakhir seperti Kecerdasan Buatan (AI), cloud computing, maupun big data hanya berperan sebagai alat pengungkit (enabler).
Perubahan mendasar baru terjadi jika ada pergeseran gaya kepemimpinan dan penguatan tata kelola pemerintahan.
Baca Juga: Tampung Aduan Warga, Jakarta Smart City Bangun Citizen Relation Management
"Transformasi benar-benar terjadi ketika kepemimpinan berubah, tata kelola diperkuat, kerja lintas sektor berjalan, sistem dan data terintegrasi, serta inovasi terus dikembangkan," tegasnya.
Ia menutup paparannya dengan menegaskan komitmen Pemkab Karawang untuk berhenti menjebak diri dalam tren pembuat aplikasi instan.
"Pada akhirnya, kami tidak membangun aplikasi demi aplikasi, melainkan membangun pemerintahan yang semakin mudah diakses, responsif, terintegrasi, dan dipercaya oleh masyarakat," pungkas Asep Aang.
