"Tidak hanya air kiriman, kalau hujan sebentar saja air Kali Mampang sudah naik setinggi dua meter masuk ke rumah warga. Proyek turap dan normalisasi ini tentu sangat baik," tuturnya.
Meski demikian, ia menyoroti masih minimnya edukasi dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, sehingga budaya membuang sampah sembarangan ke kali masih menjadi pemicu banjir.
Senada dengan Vitalis, Slamet Wijaya, 60 tahun, warga RT 12/RW 04, menyebutkan bahwa jika air kiriman datang, warga kerap mengungsi ke tempat yang lebih tinggi hingga berhari-hari.
"Dampak pengerjaan turap ini sangat besar. Sebagai contoh, pengerjaan turap pada zaman Gubernur Ahok di Kali Krukut, yang satu aliran dan berjarak 500 meter dari sin, berhasil mengatasi banjir," kata dia.
Desak Pembangunan Jembatan Penyeberangan yang Putus
Selain masalah banjir, warga mengeluhkan terputusnya akses jembatan penyeberangan akibat tersapu banjir beberapa bulan lalu. Saat ini, warga dan anak-anak sekolah terpaksa mempertaruhkan keselamatan dengan melintasi tiang besi pipa kabel listrik tegangan tinggi di atas Kali Mampang.
"Dahulu ada jembatan penyeberangan darurat untuk mengantar anak sekolah ke SD di belakang Gedung Tifa. Setelah jembatan tersapu banjir, kami harus melewati besi penyeberangan kabel listrik tegangan tinggi," tutur Nur, 40 tahun, warga RT 09/RW 06.
Vitalis juga menambahkan, keberadaan jembatan tersebut sangat vital menghubungkan warga Tendean menuju wilayah Kuningan Barat. "Kami berharap pemerintah Jakarta Selatan dapat membuatkan jembatan penyeberangan pengganti agar warga tidak menempuh risiko besar saat menyeberang," ujarnya.
Berdasarkan pantauan Poskota di lokasi, empat unit alat berat ekskavator (termasuk ekskavator amfibi) telah disiagakan di sepanjang Jalan Poncol Raya. Petugas SDA tampak sibuk membangun pondasi di dasar kali, sedangkan truk material lalu-lalang mengangkut box culvert untuk dipasang di aliran kali selebar lima meter tersebut.
