Jadi, bagian ini masih murni teori.
3. Doom berpura-pura menjadi sekutu
Doom juga tidak harus langsung muncul sebagai villain yang terang-terangan menyerang Avengers.
Ia bisa tampil sebagai sosok cerdas dan diplomatis yang menawarkan bantuan ketika para pahlawan menghadapi ancaman multiverse. Justru dari posisi sebagai sekutu, Doom memiliki kesempatan untuk memahami kelemahan masing-masing kelompok.
Jika pengkhianatan terjadi pada waktu yang tepat, para hero mungkin tidak memiliki kesempatan untuk membangun pertahanan.
Baca Juga: Alsof Farhan Siapa dan Lulusan Mana? Ini Sosok Suami Salsabilla Audinna usai Putus dari Arief Meivio
4. Doom hanya menunggu kehancuran multiverse
Kemungkinan terakhir justru yang paling berbahaya: Doom tidak menciptakan kekacauan, tetapi memanfaatkannya.
Jika Incursion menyebabkan beberapa realitas bertabrakan dan hancur, Doom dapat menjadi sosok yang mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Konsep ini memiliki kemiripan dengan kisah Secret Wars dalam komik, ketika Doom berhasil memanfaatkan kehancuran multiverse untuk membangun realitas baru.
Dengan kata lain, Doom mungkin bukan sumber masalah terbesar. Ia hanya menjadi orang yang paling siap ketika masalah itu mencapai titik puncak.
Jika Marvel benar-benar ingin membuat Avengers: Doomsday terasa berbeda, kemenangan Doctor Doom bisa menjadi pilihan cerita yang berani. Ia tidak harus mengalahkan seluruh Avengers melalui kekuatan fisik.
Doom justru bisa menang karena kecerdasan, manipulasi, teknologi, dan kemampuannya membaca situasi. Seperti dalam banyak cerita komiknya, kekuatan terbesar Doom bukan selalu apa yang bisa ia hancurkan, melainkan kapan ia memilih untuk bertindak.
