Gempa M7,7 NTT Picu Tsunami 1,67 Meter, Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya

Minggu 16 Agu 2026, 08:41 WIB
Ilustrasi sesar Flores
Ilustrasi sesar Flores

POSKOTA.CO.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi menjadi perhatian serius Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Guncangan kuat tersebut tidak hanya dirasakan di sejumlah wilayah, tetapi juga memicu tsunami dengan ketinggian maksimum mencapai 1,67 meter di Pota, Kabupaten Manggarai Timur.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores. Struktur tektonik ini berada di laut bagian utara Kepulauan Nusa Tenggara dan terbagi dalam sejumlah segmen.

“Struktur tersebut secara historis pernah menghasilkan sejumlah gempa besar di kawasan Nusa Tenggara,” ujar Lana dalam penjelasannya.

Catatan sejarah memperlihatkan aktivitas tektonik di kawasan ini bukan sesuatu yang baru. Beberapa gempa yang pernah dikaitkan dengan struktur tersebut antara lain gempa Flores Utara pada 1961, Solor pada 1982, Flores pada 1992, serta Manggarai pada 2003.

Baca Juga: Jelang HUT ke-81 RI, Pedagang Musiman Resah Bendera Tak Laku

Kondisi Geologi Ikut Memengaruhi Dampak Guncangan

Menurut Badan Geologi, wilayah terdampak memiliki kondisi geologi yang cukup beragam. Bentang alamnya terdiri atas dataran, kawasan berombak dan bergelombang, hingga perbukitan serta pegunungan.

Dari sisi batuan, kawasan tersebut tersusun atas batuan vulkanik berusia Tersier dan batuan sedimen periode Kuarter. Karakteristik ini menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana guncangan gempa diteruskan dan dirasakan di permukaan.

Kondisi tanah juga menjadi perhatian melalui parameter Vs30. Di wilayah terdampak terdapat variasi kondisi tapak, mulai dari material sangat padat dan batuan lunak hingga tanah yang lebih lunak.

Perbedaan karakter tanah tersebut dapat membuat respons terhadap guncangan tidak sama di setiap lokasi. Pada kondisi tertentu, tanah lunak dapat memperkuat guncangan di permukaan dan meningkatkan risiko terhadap bangunan.

Beberapa Dampak yang Perlu Diwaspadai

Badan Geologi mencatat kawasan terdampak memiliki potensi bahaya gempa bumi kategori menengah hingga tinggi. Pemodelan menunjukkan wilayah yang paling dekat dengan sumber gempa dapat mengalami intensitas VII hingga VIII Modified Mercalli Intensity (MMI).

Sementara itu, guncangan sekitar VI MMI masih berpotensi dirasakan hingga Manggarai Timur dan Kabupaten Sikka.

Selain kerusakan akibat guncangan, sejumlah bahaya ikutan juga perlu diperhatikan, antara lain:

  • Tsunami, dengan ketinggian maksimum yang dilaporkan mencapai 1,67 meter di Pota.
  • Gerakan tanah, terutama di kawasan perbukitan dan lereng.
  • Likuefaksi, yang perlu diperiksa melalui kajian lapangan.
  • Kerusakan bangunan, mulai dari retakan dinding hingga kerusakan komponen struktur.

Keluarnya air dari tanah, yang masih membutuhkan verifikasi untuk memastikan kaitannya dengan kondisi geologi pascagempa.

Baca Juga: 5 Hp Samsung Kamera Terbaik 2026, Harga di Bawah Rp5 Juta

Tim Tanggap Darurat Dikirim ke Wilayah Terdampak

Badan Geologi akan mengirimkan Tim Penyelidikan Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi ke wilayah terdampak. Tim ini bertugas memeriksa kondisi lapangan, mengumpulkan data kerusakan, sekaligus memastikan potensi bahaya geologi yang muncul setelah gempa.

Langkah tersebut penting karena dokumentasi awal belum cukup untuk menggambarkan kondisi secara menyeluruh. Pemeriksaan langsung diperlukan sebelum pemerintah menentukan rekomendasi teknis penanganan dan mitigasi.

Bagi masyarakat, kewaspadaan tetap menjadi hal utama. Warga diminta mengikuti informasi resmi dari BPBD dan pemerintah daerah serta tidak mudah percaya pada kabar yang belum jelas sumbernya.

Bangunan yang mengalami kerusakan sebaiknya tidak langsung digunakan sebelum dipastikan aman. Warga juga perlu memperhatikan jalur evakuasi, menjauhi tebing yang berpotensi longsor, dan tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Pada akhirnya, gempa besar di NTT kembali menunjukkan bahwa ancaman bencana di kawasan Nusa Tenggara tidak hanya berkaitan dengan kekuatan gempa, tetapi juga kondisi tanah, bentuk wilayah, kualitas bangunan, dan kesiapan masyarakat. Penguatan mitigasi serta penerapan standar bangunan tahan gempa menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko ketika aktivitas tektonik kembali terjadi.


Berita Terkait


News Update