Gempa M7,7 NTT Picu Tsunami 1,67 Meter, Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya

Minggu 16 Agu 2026, 08:41 WIB
Ilustrasi sesar Flores
Ilustrasi sesar Flores

Selain kerusakan akibat guncangan, sejumlah bahaya ikutan juga perlu diperhatikan, antara lain:

  • Tsunami, dengan ketinggian maksimum yang dilaporkan mencapai 1,67 meter di Pota.
  • Gerakan tanah, terutama di kawasan perbukitan dan lereng.
  • Likuefaksi, yang perlu diperiksa melalui kajian lapangan.
  • Kerusakan bangunan, mulai dari retakan dinding hingga kerusakan komponen struktur.

Keluarnya air dari tanah, yang masih membutuhkan verifikasi untuk memastikan kaitannya dengan kondisi geologi pascagempa.

Baca Juga: 5 Hp Samsung Kamera Terbaik 2026, Harga di Bawah Rp5 Juta

Tim Tanggap Darurat Dikirim ke Wilayah Terdampak

Badan Geologi akan mengirimkan Tim Penyelidikan Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi ke wilayah terdampak. Tim ini bertugas memeriksa kondisi lapangan, mengumpulkan data kerusakan, sekaligus memastikan potensi bahaya geologi yang muncul setelah gempa.

Langkah tersebut penting karena dokumentasi awal belum cukup untuk menggambarkan kondisi secara menyeluruh. Pemeriksaan langsung diperlukan sebelum pemerintah menentukan rekomendasi teknis penanganan dan mitigasi.

Bagi masyarakat, kewaspadaan tetap menjadi hal utama. Warga diminta mengikuti informasi resmi dari BPBD dan pemerintah daerah serta tidak mudah percaya pada kabar yang belum jelas sumbernya.

Bangunan yang mengalami kerusakan sebaiknya tidak langsung digunakan sebelum dipastikan aman. Warga juga perlu memperhatikan jalur evakuasi, menjauhi tebing yang berpotensi longsor, dan tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Pada akhirnya, gempa besar di NTT kembali menunjukkan bahwa ancaman bencana di kawasan Nusa Tenggara tidak hanya berkaitan dengan kekuatan gempa, tetapi juga kondisi tanah, bentuk wilayah, kualitas bangunan, dan kesiapan masyarakat. Penguatan mitigasi serta penerapan standar bangunan tahan gempa menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko ketika aktivitas tektonik kembali terjadi.


Berita Terkait


News Update