BMKG Beberkan Pemicu Gempa Bumi M 7,7 di NTT Sebut Akibat Aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores

Sabtu 15 Agu 2026, 13:27 WIB
Bangunan Pelabuhan Lauren Say, Maumere, Kabupaten Sikka, saat terjadi gempa. (Sumber: Istimewa)
Bangunan Pelabuhan Lauren Say, Maumere, Kabupaten Sikka, saat terjadi gempa. (Sumber: Istimewa)

POSKOTA.CO.ID - Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa kuat tersebut dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores yang memang memiliki potensi menghasilkan gempa besar.

BMKG mengungkap mekanisme gempa M 7,7 yang mengguncang wilayah NTT pada Sabtu pagi. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, gempa tersebut terjadi akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.

"Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores ya, dan gempa 7,7. Jadi di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8–7,9, hari ini sudah rilis 7,7," ujar Wijayanto saat dikonfirmasi Pos Kota, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Menurut Wijayanto, wilayah busur belakang Flores memiliki sejarah gempa kuat dengan mekanisme serupa.

Baca Juga: Gempa M 7,7 Guncang NTT, Bangunan Pelabuhan Maumere Ambruk Timpa Warga

Salah satunya terjadi pada 1992 dengan kekuatan M 7,5. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan besar di sejumlah wilayah terdampak.

Kerusakan terutama terjadi pada bangunan dan infrastruktur akibat guncangan kuat yang berlangsung cukup lama.

Dengan adanya gempa M 7,7 pada 2026, BMKG menilai aktivitas tersebut masih berada dalam karakteristik sumber gempa yang memang memiliki potensi menghasilkan gempa besar di kawasan busur belakang Flores.

Baca Juga: Gempa M 7,7 Guncang Nagekeo, BNPB Kerahkan Helikopter dan Tim Darurat

BMKG Pantau Gempa Susulan

Tangkapan layar peringatan Tsunami dari BMKG, pada gempa berkekuatan M 7,4. (Sumber: BMKG)

Setelah gempa utama terjadi, BMKG terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan di wilayah NTT, termasuk kemungkinan munculnya gempa susulan.

Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas gempa sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan informasi terbaru.

"Jadi nanti kita akan terus monitor aktivitas gempa susulan. Jadi nanti BMKG akan terus monitor aktivitas gempa susulannya dan akan terus menyampaikan ke masyarakat," kata Wijayanto.

Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Baca Juga: Gempa M7,7 Guncang NTT, Getarannya Terasa hingga Lombok

BMKG juga menyampaikan bahwa peringatan dini tsunami yang sebelumnya dikeluarkan setelah gempa M 7,7 telah diakhiri.

Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, BMKG masih melakukan pemantauan terhadap perubahan muka air laut melalui sejumlah stasiun pengukur pasang surut atau tide gauge.

"Tadi sudah disampaikan, kita sudah akhiri (peringatan dini tsunami), tapi tentunya kita akan terus memonitor aktivitas tinggi muka air laut yang akan tercatat di stasiun-stasiun TG (tide gauge) kita," terang Wijayanto.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tetapi waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Informasi mengenai perkembangan aktivitas gempa dan kondisi muka air laut diimbau hanya diperoleh melalui kanal resmi BMKG.


Berita Terkait


News Update