"Naik dari mana? Orderan sekarang terasa lebih sepi. Biasanya pagi sudah belasan perjalanan, tapi hari ini baru beberapa yang masuk," keluh pria asal Depok, Jawa Barat tersebut.
Tak hanya jumlah pesanan yang berkurang, Hamdan juga mengaku nilai pendapatan dari setiap perjalanan ikut menurun. Padahal, ia berharap berkurangnya potongan komisi dapat membuat penghasilan bersih yang diterima pengemudi semakin besar.
"Jujur saja, saya berharap setelah potongan komisi turun, pendapatan yang diterima pengemudi bisa lebih besar. Tapi sejauh ini yang saya rasakan malah nominal per perjalanan ikut berkurang," keluh Hamdan.
Keluhan serupa disampaikan Rahmatullah, 32. Menurutnya, jumlah order yang diterima pada awal penerapan kebijakan baru tersebut juga mengalami penurunan dibandingkan kondisi normal. Kondisi itu membuat dia berharap kebijakan baru dapat benar-benar memberikan dampak positif terhadap pendapatan mereka.
"Tahun lalu lah, biasanya pada jam seperti ini sudah dapat cukup banyak order, sekarang baru berapa orderan ini," ucap bapak satu anak itu.
Baca Juga: Keluhan Driver Ojol Usai Harga Pertamax Naik: Penghasilan Tetap, Pengeluaran Bertambah
Selain mempersoalkan sepinya pesanan dan menurunnya pendapatan per perjalanan, para pengemudi juga mempertanyakan perbedaan antara tarif yang dibayarkan penumpang dengan nominal yang akhirnya diterima driver. Mereka berharap mekanisme pembagian tarif dapat dilakukan secara transparan dan memberikan kepastian terhadap pendapatan yang diterima pengemudi.
"Tempo hari saya tanya ke penumpang dia bayar 30 ribuan dari sini (Stasiun MRT) sampai Pondok Ranji, tapi di sini cuma hampir setengahnya," tuturnya.
Ia berharap, mekanisme tarif dan pembagian komisi dapat dilakukan secara transparan sehingga kebijakan yang disebut meningkatkan porsi pengemudi benar-benar berdampak terhadap penghasilan bersih mereka. Dengan begitu, kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang nyata bagi kesejahteraan para pengemudi ojol.
