Karhutla Gunung Bromo Meluas hingga 550 Hektare, Warga Diminta Waspadai Dampak Asap bagi Kesehatan

Senin 10 Agu 2026, 20:48 WIB
Ilustrasi Karthutla. (Sumber Foto: BNPB)
Ilustrasi Karthutla. (Sumber Foto: BNPB)

POSKOTA.CO.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, masih menjadi perhatian. Hingga Senin (10/8) pukul 06.00 WIB, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 550 hektare. Angka tersebut masih bersifat sementara karena tim di lapangan masih melakukan pendataan ulang.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengatakan luas area yang terbakar masih berpotensi berubah seiring proses verifikasi.

"Luas area terbakar kurang lebih 550 hektare. Data berkembang dalam proses pendataan ulang," ujar Satriyo dalam laporan resminya.

Api menghanguskan berbagai jenis vegetasi, mulai dari cemara gunung, mentigen, akasia, hingga semak belukar. Hingga laporan terakhir, tidak ada korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

Meski demikian, kondisi di lapangan masih membutuhkan perhatian serius. Titik api yang sebelumnya berada di kawasan P30 dilaporkan mulai merembet mendekati permukiman warga. Tim gabungan dari berbagai instansi terus melakukan upaya pemadaman dan pencegahan agar kebakaran tidak meluas ke area yang lebih berisiko.

Asap Karhutla Menjadi Ancaman Baru bagi Masyarakat

Di balik upaya memadamkan api, ada persoalan lain yang tak kalah penting, yakni kualitas udara. Saat kebakaran meluas, asap yang dihasilkan membawa berbagai polutan berbahaya, termasuk partikel halus PM2.5 yang dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), asap kebakaran hutan mengandung campuran gas dan partikel berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan. Sementara itu, Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, hingga penderita penyakit paru-paru dan jantung menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami dampak serius ketika kualitas udara memburuk.

Kenali Gejala Setelah Terpapar Asap Karhutla

Paparan asap kebakaran hutan tidak selalu langsung menimbulkan keluhan berat. Namun, beberapa gejala awal perlu diwaspadai agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Beberapa tanda yang umum muncul antara lain:

Mata terasa perih, merah, dan berair.

Hidung tersumbat atau berair.

Tenggorokan kering dan terasa gatal.

Batuk berkepanjangan.

Sakit kepala.

Sesak napas atau napas terasa berat.

Pada penderita asma, bronkitis, maupun penyakit paru kronis (PPOK), gejala tersebut dapat berkembang menjadi lebih berat. Jika muncul sesak napas hebat, nyeri dada, atau kesulitan bernapas, masyarakat disarankan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Cara Mengurangi Risiko Paparan Asap Karhutla

Selama kebakaran masih berlangsung, masyarakat di sekitar wilayah terdampak dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk melindungi kesehatan.

1. Kurangi aktivitas di luar ruangan

Batasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara dipenuhi asap. Aktivitas fisik berat membuat tubuh menghirup udara lebih banyak sehingga paparan polutan juga meningkat.

2. Gunakan masker yang sesuai

Apabila harus keluar rumah, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus dan pastikan masker menutupi hidung serta mulut dengan rapat.

3. Lindungi kelompok rentan

Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis sebaiknya tetap berada di dalam ruangan selama kualitas udara belum membaik.

4. Perbanyak minum air putih

Menjaga tubuh tetap terhidrasi dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat paparan asap.

Baca Juga: Bigmo Penuhi Panggilan Polisi soal Kasus Promosi Vape, Irit Bicara ke Media

5. Hindari sumber polusi tambahan di dalam rumah

Jangan membakar sampah, merokok di dalam rumah, atau melakukan aktivitas yang menghasilkan asap ketika kualitas udara sedang buruk.

6. Segera periksa ke dokter bila gejala memburuk

Jangan menunda pemeriksaan jika mengalami sesak napas, napas berbunyi, atau keluhan pernapasan yang semakin berat.

Kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada rusaknya kawasan hutan. Ketika asap mulai mencapai wilayah permukiman, kualitas udara ikut menurun dan risiko gangguan kesehatan masyarakat meningkat.

Karena itu, selain mengikuti perkembangan proses pemadaman, masyarakat juga perlu memantau informasi resmi mengenai kondisi udara di wilayahnya. Langkah sederhana seperti membatasi aktivitas luar ruangan, memakai masker, dan segera memeriksakan diri saat muncul gejala dapat membantu mengurangi risiko selama kebakaran belum sepenuhnya terkendali.


Berita Terkait


News Update