Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Pola kerja dari rumah (work from home) sehari dalam sepekan bagi ASN diperpanjang, setidaknya hingga September 2026.
Keputusan ini sebagai tindak lanjut setelah pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh selama dua bulan terakhir, kebijakan tersebut berdampak positif.
Seperti dikatakan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026, perpanjangan kebijakan tersebut juga mencerminkan komitmen pemerintah untuk mendorong penghematan konsumsi energi dan meningkatkan efisiensi belanja operasional.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Isu Penggantian Kapolri, DPR Bilang Tidak Benar
“Artinya WFH sehari dalam sepekan bagi ASN yang mulai diberlakukan April lalu, hasilnya dinilai efektif dan efisien,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Intinya dengan WFH sehari dalam sepekan akan lebih hemat dalam segalanya,” tambah Yudi.
“Itu pasti. Hemat pengeluaran, hemat konsumsi energi mulai dari BBM, listrik, dan air yang berarti pula akan hemat anggaran. Itu yang disebut efisiensi anggaran,” urai mas Bro.
“Kalau ditotal berapa penghematan anggaran yang dapat dilakukan dari jutaan ASN baik pusat maupun daerah karena kerja dari rumah?” tanya Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Dua Pejabat Negara Mundur, Ada Apa?
“Kita tak perlu tahu, yang pasti lumayan besar penghematan dapat dilakukan,bukan hanya anggaran, terlebih sumber daya energi. WFH itu tak ubahnya kantor libur,” jelas mas Bro.
“Kecuali unit pelayanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti mal pelayanan publik, layanan kesehatan, pendidikan, administrasi kependudukan dan perizinan tetap beroperasi penuh setiap hari kerja,” kata Heri.
“Berarti sekolah tetap beroperasi seperti biasanya, begitu juga puskesmas, dukcapil, imigrasi dan sejenisnya,” kata Yudi.
“Pekerjaan yang bersifat administrasi bisa dikerjakan dari rumah, tetapi yang bersifat teknis di lapangan tidak bisa dikerjakan dari rumah. Misalnya pengerukan kali,petugas kebersihan, pengangkutan sampah,perbaikan kabel telepon, listrik dan masih banyak lagi,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Anak Masa Depan Kita Semua
“Ya, iyalah aneh juga mosok ngangkut sampah di tempat lain cukup dikerjakan dari rumah, sepertinya belum ada teknologi seperti itu. Kehadiran personel tetap dibutuhkan,” ujar mas Bro.
“Iya juga, kita tak bisa bayangkan kalau sampah di Jakarta, misalnya sehari saja nggak diangkut, gimana,” kata Yudi.
“Nggak usah dibayangkan, tapi dirasakan misalnya sampah dapur sehari nggak dibuang ke tempat sampah,gimana. Intinya WFH harus disesuaikan dengan karakteristik masing – masing pekerjaan,” kata Heri.
“WFH nggak masalah, terpenting produktivitas bagus. Terlebih sudah WFH hemat anggaran dan energi, hasil pekerjaan bagus. Sudah efektif, efisien lagi,” kata mas Bro.
