Hasil pengujian awal menunjukkan bahwa chatbot memang mengalami kesulitan memahami isi pesan ketika hanya diberikan gambar atau teks sederhana menggunakan font Decoy. AI lebih banyak mengenali pola outline dibandingkan isi tulisan yang sebenarnya.
Namun, efektivitas font ini ternyata belum sepenuhnya mutlak. Ketika AI diberikan konteks tambahan atau petunjuk yang lebih lengkap, beberapa model mulai mampu menafsirkan makna dari teks tersebut dan memahami pesan yang ingin disampaikan.
Solusi Tambahan, Bukan Pengganti Sistem Keamanan
Meski menawarkan pendekatan yang unik, Decoy belum dapat dianggap sebagai solusi keamanan yang benar-benar kebal terhadap AI. Seiring berkembangnya teknologi machine learning, kemungkinan AI beradaptasi terhadap pola font semacam ini tetap terbuka.
Baca Juga: Daftar HP vivo Harga Rp1 Jutaan Juli 2026, Cocok untuk Pelajar dan Pekerja
Karena itu, penggunaan font Decoy lebih tepat diposisikan sebagai lapisan perlindungan tambahan untuk menyulitkan proses ekstraksi informasi otomatis, bukan sebagai pengganti metode keamanan seperti enkripsi, kontrol akses, atau perlindungan dokumen digital lainnya.
Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa perlombaan antara teknologi AI dan sistem perlindungan data akan terus berkembang. Di masa depan, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak pendekatan kreatif yang memanfaatkan desain visual untuk menjaga privasi informasi.
