Menurut dia, menulis kitab bukan hanya kegiatan akademik, tetapi juga bagian dari dakwah dan bentuk pengabdian kepada umat. Sebab, karya tulis memungkinkan ilmu terus berkembang dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Ceramah dapat menggerakkan hati pada masanya. Tetapi kitab menjaga ilmu tetap hidup sepanjang masa. Karena itu, ulama perlu memiliki semangat meninggalkan karya sebagai bagian dari amal jariyah keilmuan,” tuturnya.
Peluncuran kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa juga menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama agar tidak berhenti pada kegiatan pengajian, tetapi berkembang menjadi tradisi produksi ilmu dan literasi Islam.
KH Zulfa berharap semangat menulis kembali tumbuh di kalangan ulama, pesantren, perguruan tinggi Islam, maupun lembaga kajian keagamaan. Menurutnya, tradisi membaca harus berjalan beriringan dengan tradisi menulis agar perkembangan ilmu Islam Indonesia terus berlanjut.
Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa diharapkan menjadi salah satu kontribusi dalam memperkaya literasi Islam Indonesia dengan tetap berlandaskan sanad keilmuan dan tradisi pesantren.
Acara peluncuran dan bedah kitab tersebut akan menghadirkan sejumlah ulama, kiai, akademisi, santri, tokoh masyarakat, serta warga Nahdliyin. Kegiatan itu akan dipandu oleh Gus Miftah sebagai moderator.
Momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat pentingnya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam melalui karya tulis, sehingga ilmu para ulama tetap hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
