"Dari belko masukin tanah ke dump truck. Sehari bisa tiga dump truck. Itu yang mungkin bikin jalan enggak kuat," katanya.
Kekhawatiran warga kini bukan hanya soal jalan yang putus, tetapi juga ancaman kerusakan yang terus merembet ke permukiman.
"Kalau enggak cepat diatasi takutnya makin ke sana. Turap pinggir kali saja sudah pecah," ucapnya.
Kini akses yang dulu menjadi jalur penghubung menuju pasar, terminal hingga kawasan Klender tidak lagi bisa dilalui kendaraan roda empat. Warga harus memutar cukup jauh untuk mencapai tujuan.
"Cuma motor yang bisa lewat, itu juga gantian. Mobil sudah enggak bisa sama sekali," kata Arip.
Bahkan aktivitas ekonomi warga ikut terdampak. Beberapa warung kehilangan pelanggan karena jalan ditutup.
"Warung ada yang sudah tutup karena jalannya ditutup. Perekonomian warga juga terganggu," ujar Arip.
Hal senada disampaikan Kasia 60 tahun, warga yang rumahnya berada tak jauh dari lokasi jalan amblas. Ia masih mengingat jelas momen ketika jalan itu mulai runtuh pada sore hari saat Lebaran.
"Sorenya habis hujan orang-orang lihat trotoarnya sudah retak. Padahal paginya masih bisa dilewati mobil," kata Kasia.
Ia mengatakan retakan tidak hanya terjadi di jalan, tetapi juga mulai muncul di rumah-rumah warga.
"Tembok-tembok rumah pada retak. Semua jadi waswas, takut kalau hujan besar tambah parah," ujarnya.
Jalan selebar delapan meter itu kini praktis hanya menyisakan sekitar satu meter yang masih dapat dilintasi sepeda motor secara bergantian.
