Kontroversi Promosi Berujung Boikot, Starbucks Korea Hentikan Operasional Seluruh Gerai

Rabu 17 Jun 2026, 18:24 WIB
Ilustrasi Starbucks Coffe. (Sumber: Dok/Starbucks)
Ilustrasi Starbucks Coffe. (Sumber: Dok/Starbucks)

Dampak kasus ini tidak hanya berpengaruh pada kinerja bisnis, tetapi juga memasuki ranah hukum.

Baca Juga: Ancaman Blokade Selat Hormuz: Ekonomi Global Terancam Gegara Penolakan Iran

Kepolisian Metropolitan Seoul diketahui telah memulai pemeriksaan terhadap sejumlah pejabat di Shinsegae Group, perusahaan pemegang lisensi Starbucks di Korea Selatan.

Penyelidikan dilakukan terkait dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik yang muncul akibat kampanye promosi tersebut.

Dalam proses pemeriksaan, Kepala Tim Audit Shinsegae Group, Yang Jongwan, telah dipanggil untuk memberikan keterangan mengenai mekanisme persetujuan internal yang memungkinkan materi promosi tersebut dipublikasikan kepada masyarakat.

Materi Promosi Disebut Dibuat dengan Bantuan AI

Sorotan publik juga tertuju pada proses kreatif di balik kampanye kontroversial tersebut. Manajemen mengungkapkan bahwa materi promosi disusun menggunakan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Namun, penggunaan AI tersebut disebut tidak diimbangi dengan pengawasan dan proses verifikasi yang memadai dari jajaran manajemen, sehingga konten yang dinilai sensitif secara historis lolos ke publik.

Peristiwa ini kembali memunculkan perdebatan mengenai pentingnya pengawasan manusia dalam penggunaan teknologi AI, terutama untuk kampanye yang berkaitan dengan isu sosial dan sejarah.

Chairman Shinsegae Ikut Jalani Pelatihan Sensitivitas Sejarah

Sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan, Chairman Shinsegae Group sekaligus pemegang saham mayoritas E-Mart, Chung Yong-jin, bersama jajaran direksi lainnya dipastikan akan mengikuti pelatihan sensitivitas sosial dan sejarah modern secara terpisah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperbaiki tata kelola internal, meningkatkan pemahaman sejarah, serta memulihkan kepercayaan publik yang terdampak akibat kontroversi kampanye "Tank Day".


Berita Terkait


News Update