Ekonomika Pancasila: Neoliberalisme Adalah Ketamakan

Rabu 20 Mei 2026, 13:26 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre). (Sumber: Poskota)

Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre). (Sumber: Poskota)

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

POSKOTA.CO.ID - Alarm kecemasan neoliberal berdentang. Lewat agensi, majalah, media dan lembaga peringkat, mereka meneror Indonesia. Ini mereka kerahkan setelah kita merealisasilan program kedaulatan ekonomi via Danantara, Koperasi Merah Putih, MBG, Sekolah Rakyat, dll.

Ini mengingatkan kita akan teorama nusantara studies yang menyebutkan tesis sederhana, "selama parameter ekonomi politik kita terus divalidasi dengan: 1)Nilai tukar; 2)Investasi asing; 3)Pertumbuhan; 4)Inflasi; 5)IHSG; 6)Index demokrasi; 7)Index HAM; 8)Index jender; 9)Index pluralisme; 10)Kelayakan hidup dan angka versi lembaga neoliberalisme maka selama itu juga ekonomi politik jadi senjata untuk menjajah kita semua.

Saya belum selesai masak air saat bel rumah berdentang. Terlihat tukang pos mengantar kiriman. Seminggu lalu memang kami pesan buku. Dan, betul: tukang pos itu mengantarkan buku.

Ini satu dari puluhan buku keren karya guru Revrisond Baswir yang sedang kami koleksi. Dalam rangka menyusun undang-undang sistem perekonomian nasional, buku bertema neoliberalisme dan ekonomi pasar harus kami tumpuk dan pelajari kembali. Tentu agar perekonomian kita tak jatuh pada ekonomi bagi si kaya dan serakah. Presiden menyebutnya: serakahnomics.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Kini Rupiah Makin Tak Berdaulat

Sekali lagi, buku ini menceritakan kembali bahwa kita mengalami penjajahan. Belum merdeka 100%. Bahkan baru postkolonial semu. Rentetannya hanya ganti pemain: dari kolonialis jadi konglomeratis, lalu jadi mafiatis, lalu jadi oligarkis dan kini jadi pasukan serakah dan lamis-bengis.

Padahal, penjajahan adalah hal yang harus dihapuskan karena jadi penyebab dari:

  1. Kehilangan kedaulatan. Ya, dalam sejarahnya, penjajahan selalu menghilangkan kedaulatan negara, pemerintah dan warganya sehingga mereka bodoh dan tidak dapat membuat keputusan sendiri (kehilangan masa depan);
  2. Kehilangan sumber daya alam dan manusia (SDA dan SDM). Penjajahan selalu menyebabkan eksploitasi sumber daya alam, manusia dan ekonomi suatu negara, sehingga tidak dapat memanfaatkan sumber daya mereka sendiri (kehilangan masa kini);
  3. Kehilangan kultur yang hidup dan mentradisi. Penjajahan selalu menyebabkan hilangnya budaya dan identitas suatu negara, karena mereka dipaksa untuk mengadopsi budaya, ilmu, agama, tekhnologi dari penjajah (kehilangan masa lalu);
  4. Banjirnya kekerasan dan penindasan. Penjajahan selalu menyebabkan kekerasan dan penindasan bahkan pembunuhan masal terhadap negara yang dijajah (kehilangan jati diri).

Buku ini menawarkan anti tesanya, bahkan kontra skemanya. Terdiri dari sepuluh bab (h.ix), dengan sangat rinci penulis mencandra neoliberal dan membuat lawan tandingnya. Terlihat penulis begitu ahli dalam tema dan anti temanya.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Neoliberalisme Itu Pagebluk

Tetapi, bagi banyak ekonom dan hit-man, neoliberalisme itu bikin gentar. Jiwanya bikin gemetar. Tubuhnya bikin tubuh ekonom pecundang, mekar. Semua auranya seperti halilintar: menerkam elit istana sampai jadi krupuk legendar.


Berita Terkait


News Update