KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Industri transportasi dan logistik menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi karbon di tengah meningkatnya tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Kebutuhan terhadap sistem penghitungan emisi yang lebih akurat pun semakin mendesak, terutama karena banyak perusahaan dinilai masih kesulitan mengintegrasikan data armada secara real-time.
Founder dan CEO Anggia Meisesari menilai persoalan utama saat ini bukan lagi sekadar membangun kesadaran terkait ESG, melainkan memastikan implementasi berjalan efektif di lapangan.
Menurutnya, keterbatasan visibilitas data membuat upaya efisiensi operasional dan pengurangan emisi belum maksimal.
Baca Juga: PLN Perkuat Keandalan Listrik di Fasilitas Transportasi Publik Jakarta Raya
“Banyak perusahaan sudah memiliki komitmen ESG, tapi belum didukung visibilitas data yang memadai,” ujar Anggia dalam keterangan resmi, Senin, 4 Mei 2026.
Menurut Anggia, sejumlah studi kasus di Indonesia menunjukkan tingginya waktu kendaraan dalam kondisi idle serta perencanaan rute distribusi yang kurang optimal menjadi penyebab utama pemborosan bahan bakar.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan emisi karbon dari aktivitas transportasi.
Kemudian untuk menjawab tantangan itu, TransTrack menghadirkan sistem Smart Fleet Management berbasis Internet of Things (IoT).
Baca Juga: Potongan Ojol 8 Persen Diusulkan, Pengamat Transportasi Ingatkan Risiko Investor Aplikator Kabur
Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan memantau performa armada secara real-time sekaligus menghitung emisi karbon secara otomatis berdasarkan aktivitas kendaraan.
