Kedatangan alat berat tersebut digambarkan mendapat pengawalan aparat keamanan dan menjadi penanda dimulainya proyek pembukaan lahan dalam skala luas.
Proyek itu disebut sebagai bagian dari rencana konversi hutan hingga mencapai 2,5 juta hektar menjadi kawasan perkebunan industri.
Kawasan tersebut diproyeksikan untuk pengembangan biodiesel sawit, perkebunan tebu bioetanol, hingga program food estate yang diklaim mendukung “ketahanan pangan” dan “transisi energi”.
Film kemudian memperlihatkan benturan antara kepentingan pembangunan industri dengan kehidupan masyarakat adat yang selama ini bergantung penuh pada hutan.
Bagi kelompok masyarakat adat seperti suku Marind Anim, Yei, Awyu, dan Muyu, hutan bukan hanya sekadar sumber daya ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya, ruang hidup, hingga sumber pangan utama terutama sagu.
Dalam berbagai adegan, film Pesta Babi menunjukkan bagaimana kawasan hutan yang sebelumnya menjadi tempat berburu, mencari makan, hingga menjalankan tradisi adat perlahan berubah menjadi area perkebunan monokultur.
Tanah ulayat masyarakat mulai dipatok, alat berat masuk ke kawasan hutan, sementara sungai yang menjadi sumber air warga disebut mulai tercemar akibat aktivitas pembukaan lahan.
Kondisi tersebut digambarkan membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat lokal.
Tidak hanya berdampak pada mata pencaharian warga, tetapi juga mengancam hubungan spiritual masyarakat adat dengan alam yang selama ini diwariskan turun-temurun.
Film Pesta Babi juga menyoroti bagaimana masyarakat adat menghadapi tekanan di tengah perubahan tersebut.
Sejumlah warga digambarkan mengalami kebingungan, keterkejutan, hingga perasaan kehilangan ketika kawasan hutan yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan mereka mulai hilang.
Salah satu tokoh yang kisahnya diikuti dalam film adalah Yasinta Moiwend dari suku Marind dan Vincen Kwipalo dari suku Yei.
