BANDUNG BARAT, POSKOTA - Di balik hijaunya hutan pinus di kawasan perbukitan Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, ada perjuangan sunyi anak-anak demi bisa mengenyam pendidikan.
Setiap pagi, mereka harus menembus jalan setapak berlumpur, jalur licin, hingga tanjakan curam hanya untuk sampai ke sekolah.
Itulah keseharian siswa SDN Giriasih yang berada di Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin. Sekolah yang berdiri di dataran tinggi tepat di bawah kawasan hutan pinus milik Perhutani itu hingga kini masih sulit dijangkau kendaraan.
Akses menuju sekolah hanya bisa dilalui sepeda motor. Kendaraan roda empat dipastikan tak mampu menembus medan ekstrem menuju lokasi sekolah tersebut.
Baca Juga: 131 Proyek Strategis Bandung Barat Diteken, Jalan hingga Puskesmas jadi Prioritas
Akibatnya, sebagian besar siswa memilih berjalan kaki setiap hari. Mereka rela menyusuri jalan tanah, pematang sawah, hingga jalur perbukitan demi bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Guru SDN Giriasih, Elis Rirahayu mengatakan, saat ini sekolahnya memiliki 116 siswa yang berasal dari tiga desa, yakni Karangtanjung, Batulayang, dan Cililin.
"Kalau Desa Karangtanjung itu satu RW, Desa Cililin satu RT, sementara dari Desa Batulayang ada dua RT. Total siswa kami 116 orang," ujar Elis.
Menurutnya, perjuangan paling berat dirasakan siswa yang berasal dari Kampung Cimuncang dan Kepusilir. Mereka harus berjalan kaki sekitar dua kilometer dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit.
Baca Juga: Bupati Bandung Barat Dorong Pengelolaan Sampah Modern, TPPAS Sarimukti Bakal Jadi Sumber Listrik
Bahkan, ada siswa yang harus berangkat sejak pukul 05.30 WIB agar tidak terlambat tiba di sekolah.
"Kalau musim hujan jalannya lebih berat karena licin dan rawan longsor," katanya.
Elis menuturkan, hampir seluruh siswa SDN Giriasih berjalan kaki menuju sekolah setiap hari. Hanya segelintir siswa kelas rendah yang terkadang dijemput orang tuanya saat pulang sekolah.
"Kalau yang jalan kaki itu hampir 100 persen. Paling ada satu dua anak kelas satu yang kadang dijemput. Selebihnya semua jalan kaki," tuturnya.
Baca Juga: Bandung Barat Panen Jagung, Polres Cimahi Komitmen Dukung Program Pertanian Nasional
Saat musim hujan tiba, penderitaan mereka semakin berat. Jalan tanah berubah menjadi kubangan lumpur licin. Tak sedikit siswa yang terpeleset hingga akhirnya memilih kembali pulang ke rumah.
"Kalau musim hujan kadang anak-anak tidak bisa lewat karena jalannya becek. Ada juga yang jatuh terus pulang lagi ke rumah. Untuk yang lewat Kepusilir itu jalannya tanah semua, lewat hutan pinus dan sawah," ucap Elis.
Meski begitu, pihak sekolah tidak memaksakan siswa tetap datang apabila kondisi cuaca dan akses dinilai membahayakan keselamatan.
Sekolah memilih memberi toleransi dengan mengganti kegiatan belajar melalui tugas rumah.
Baca Juga: Kuota Haji Bandung Barat Anjlok! Dari 1.200 Jemaah Kini Tinggal 80 Orang
"Kalau memang akses tidak memungkinkan atau ada longsor, kami maklumi anak belajar dari rumah dan diberikan tugas. Keselamatan tetap yang utama," katanya.
Sementara itu, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail memastikan sekolah terpencil yang berada di Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, yakni SDN Giriasih, masuk dalam prioritas perbaikan di tahun 2026.
Selain bangunan sekolah, Pemkab Bandung Barat akan membenahi akses jalan menuju SDN Giriasih yang selama ini dikeluhkan warga dan para siswa karena kondisinya cukup ekstrem. Jalan menuju sekolah diketahui sempit, licin, dan berada di jalur perbukitan dengan medan terjal.
Jeje mengatakan, kondisi sekolah yang ditemuinya saat meninjau langsung lokasi cukup memprihatinkan. Selain mengalami keterbatasan fasilitas, sekolah tersebut juga menghadapi persoalan air bersih dan kerusakan bangunan.
Baca Juga: 131 Proyek Strategis Bandung Barat Digeber 2026, Jalan Desa hingga Puskesmas jadi Prioritas
"Begitu saya melihat kondisi sekolahnya, juga cukup mengkhawatirkan. Kondisi bangunan yang masih banyak genteng bolong dan rusak. Karena itu saya meminta Dinas Pendidikan (Disdik) agar segera melakukan perbaikan untuk menunjang semangat belajar para siswa di Desa Karangtanjung," ungkap Jeje.
Menurutnya, keluhan lain yang disampaikan para siswa berkaitan dengan akses jalan menuju sekolah yang kerap licin saat turun hujan. Kondisi tersebut dinilai membahayakan keselamatan para pelajar maupun warga sekitar.
"Dengan kondisi ini, para siswa juga mengeluhkan jalan yang licin, terutama saat hujan. Karena itu kami sekaligus membawa Dinas PUTR untuk mengecek langsung kondisi di lapangan," tuturnya.
Selain perbaikan bangunan utama sekolah, pihak sekolah juga mengusulkan adanya tambahan fasilitas berupa ruang perpustakaan untuk menunjang kegiatan belajar siswa. Usulan tersebut akan dipertimbangkan pemerintah daerah sesuai kebutuhan di lapangan.
"Untuk penunjang tambahan di sekolah, tadi ada permintaan pembangunan perpustakaan. Melihat kondisi saat ini, kemungkinan bisa ditambahkan satu ruang perpustakaan. Namun yang paling penting adalah kebutuhan air bersih karena di sini memang belum tersedia," ucapnya.
Jeje menambahkan, sumber mata air berada cukup jauh dari lokasi sekolah, sehingga diperlukan penanganan teknis agar air bisa dialirkan ke kawasan SDN Giriasih. Persoalan tersebut akan ditangani Dinas PUTR Kabupaten Bandung Barat.
"Sumber mata air juga cukup jauh, berada di bagian bawah. Nanti teknisnya saya serahkan kepada Dinas PU bagaimana caranya mengalirkan air dari bawah sampai ke lokasi sekolah. Yang penting persoalan ini bisa segera terselesaikan," tuturnya.
